Tengok Bustaman IV Siap Digelar, Angkat Narasi Bustaman untuk Dunia

Mulai dari pameran art project dari 12 seniman pilihan, hingga pertunjukan musik, teater, dan perfomance art.

SEMARANG – Tengok Bustaman merupakan kegiatan respons isu-isu kampung kota dalam bentuk artistik dengan menggandeng banyak seniman dan para urbanis. Pemberdayaan dan pemanfaatan ruang publik di wilayah Kampung Bustaman di Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah itu menjadi ruang respons para seniman yang terlibat. Tahun ini merupakan gelaran keempat acara yang digagas oleh Kolektif Hysteria bersama Ikatan Remaja Bustaman tersebut.

 

 

Tengok Bustaman IV ini akan diselenggarakan mulai  Sabtu (20/4/2019) hingga Minggu (28/4/2019) di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Semarang. Gelaran kali ini menggabungkan antara Tengok Bustaman dan Gebyuran Bustaman yang tiap tahun dilaksanakan oleh warga Kampung Bustaman. Tema besar dalam Tengok Gebyuran Bustaman ini adalah “Bustaman untuk Dunia”.

“Tengok dan Gebyuran Bustaman kali ini lebih menyoroti peranan Ki Bustam dan pengaruh keturunannya. Sebagaimana diketahui Kampung Bustaman berasal dari sepetak tanah yang nisbatnya kepada Ki Kertoboso Bustam selaku pemilik sebelumnya,” kata koordinator Tengok Bustaman IV, Iqbal Bombom, kepada metrojateng.com, Jumat (19/4/2019).

Bombom menjelaskan, tema tersebut sejalan dengan acara tahunan dan tradisi kampung yakni “Gebyuran Bustaman”. Tradisi tersebut konon berasal dari kebiasaan Ki Bustam memandikan cucunya menjelang bulan Ramadhan. Oleh warga kemudian dimaknai sebagai upaya bersih diri dari dosa.

“Gebyuran Bustaman tahun ini jatuh pada 28 April 2019 mendatang. Kali ini menjadi satu rangkaian dalam Tengok Gebyuran Bustaman,” jelasnya.

Seniman yang terlibat dalam acara Tengok Gebyuran Bustaman ini antara lain Moch. Hasrul (Jakarta), Arsita Iswardhani (Teater Garasi-Yogyakarta), Pop Corn (Surabaya), Gracia Tobing (Bandung), Propagandasmu (Magelang), Deny Denso, KolaSemauku, Five Miles Stereo, Resto SAMkru, roPIG, Gump n Hell, Hananingsih Widhiasri (Semarang). Lalu ada Teater Lingkar, Sore Tenggelam, Tridhatu, OK Karaoke, Tesla Manaf, dan lainnya.

Mereka akan merespons dan meramaikan acara yang digelar tanggal 20-28 April 2019 tersebut. Mulai dari pameran art project dari 12 seniman pilihan kurator Igbal Alma Ghossanaltofani, hingga pertunjukan musik, teater, dan perfomance art.

“Untuk pameran art project digelar di Rumah Pemotongan Hewan Galery Kampung Bustaman. 12 Seniman terpilih ini akan merespons Ki Bustam, silsilah dan kisah keturunan Ki Bustam seperti Surohadimenggolo, Saleh dan Sukur, hingga pelukis mashyur Raden Saleh,” kata kurator pameran Igbal Alma Ghossanaltofani. (aka)

===========================================

JADWAL ACARA TENGOK GEBYURAN BUSTAMAN

Sabtu, 20 April 2019
Soft Opening
19.30-22.30
Pentas Teater Lingkar (Lakon “KRETEG MBEROK”)

Minggu, 21 April 2019
15.00- 22.30
Bocah Kampung Sunat (Arak2an Tradisi Khitan Bustaman ), Sore Tenggelam, Tridhatu, Arsita Garasi, Ok Karaoke, Tesla Manaf

Senin, 22 April 2019
19.30 – Selesai
Pagelaran Puisi & Gurit Wong Semarang.

Rabu, 24 April 2019
19.30 – Selesai
Workshop Fotografi KFS (Komposisi foto & memaksimalkan kamera HP)

Kamis, 25 April 2019
19.15-22.30
Pengajian Habib Novel (Haul Kyai Bustam) “Silsilah Kertoboso Bustam”

Jum’at, 26 April 2019
08.00 – Selesai
Ziarah Kyai Bustam.

20.00 – 23.00
Pengajian Suluk Cengkir Semarangan
(Musik Religi & Dakwah )

Sabtu, 27 April 2019
15.30- Selesai
Pekakota Forum #42
“ReKreasi Budaya Kampung” bareng Rojab Abdillah, Budi Sudarwanto*, Adin Mbuh, Iqbal Algof, Ayah Hari dan segenap warga jaringan mitra pekakota

18.00 – Kampung Petengan (kuliner dalam kondisi listrik mati) diisi oleh Dengan Kata Lain, Citi & Urbaya, Direct Performance Art Oleh DPU, dan Eko Setiadi

Minggu, 28 April 2019
12.00 -17.30
Closing perang air suci diri GEBYURAN BUSTAMAN (ada ritual, band Samber Nyawa, Daya Ledak, Citi N Urbaya, Congyang dan kirab kampung)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.