Temukan Pupuk Organomineral, Kontingen Undip Raih Emas di Taiwan

Kaohsiung International Invention & Design Expo (KIDE) 2018

Acara tersebut merupakan kompetisi exhibition terbesar di Asia yang diikuti oleh lebih dari 25 negara dari benua Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika.

Kontingen Undip meraih emas dalam ajang 5th Kaohsiung International Invention & Design Expo (KIDE) 2018. Foto: dokumentasi.

 

SEMARANG – Kontingen Undip berhasil meraih medali emas dalam ajang 5th Kaohsiung International Invention & Design Expo (KIDE) 2018 pada 7 hingga 9 Desember 2018 di International Convention Center Kaohsiung (ICCK), Kaohsiung, Taiwan. Acara tersebut merupakan kompetisi exhibition terbesar di Asia yang diikuti oleh lebih dari 25 negara dari benua Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika.

 

Mereka adalah Widi Dwi Noviandi (S1 Agroekoteknologi/FPP) dan lima anggota lainnya yaitu Eko Susilo (S1 Peternakan/FPP), Aulia Fitriana Ardhyatul Jannah (S1 Agroekoteknologi/FPP), Aqmarina Sandi Listya Mariati (S1 Agroekoteknologi/FPP), Nanik Nurhana (S1 Agroekoteknologi/FPP), dan Widiya Ningrum (S1 Teknik Lingkungan/FT) yang berkontribusi mengharumkan nama Indonesia di gelaran internasional.

 

Tim dari Undip ini mempromosikan inovasi produk invensi terbarunya dari hasil kajian penelitian dalam upaya mengembangan pupuk organik yang telah ada dengan judul “Eco-friendly Bio-organomineral Fertilizer for Soil Sustainability”. Sebelumnya, produk ini telah diuji di Laboratorium Kimia, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah.

 

Ketua kontingen Undip Widi Dwi Noviandi mengemukakan bahwa pupuk ini diharapkan menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan degradasi lahan-lahan sub-optimal, terutama pada kategori lahan kering dan masam.

 

“Degradasi lahan disebabkan akibat dampak dari banyaknya penggunaan pupuk kimia sehingga terjadi penurunan kualitas kesuburan tanah yang tidak maksimal. Oleh karena itu produk organomineral ini dapat meningkatkan produksi tanaman pada kondisi masam,” katanya, Rabu (23/1/2019).

 

Dia memaparkan, komposisi pupuk ini terdiri dari limbah kotoran sapi, Lemna minor L. (Duckweed), zeolit dan diperkaya bakteri Methylobacterium. Keunggulannya adalah mekanisme pupuk ini mampu menghasilkan enzim  urease yang berperan dalam metabolisme nitrogen, memacu  pertumbuhan dan morfologi akar,  menginduksi tanaman resistan secara sistemik dan sebagai sumber nitrogen dalam membantu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

 

Selain itu, pupuk ini dapat memperbaiki kapasitas pertukaran kation dalam tanah dan bersifat slow release fertilizer sehingga ketersediaan hara terjaga secara optimal.

 

Widi berharap produk ini tidak hanya sampai pada penelitian saja, namun bisa dikembangkan lebih lanjut supaya dapat bermanfaat bagi masyarakat umum dan petani khususnya.

 

Empat mahasiswa pertanian, satu mahasiswa peternakan dan satu mahasiswa teknik lingkungan itu mendapatkan apresiasi berupa Special Awards dari Korea Invention University Association (KUIA) atas ide yang inovatif terkait produk penelitiannya yang diserahkan oleh Professor di Kongju National University sekaligus President Korea University Invention Association, Lee Ju Hyung. (ade)

 

 

 

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.