Teman Tuli Grab Buktikan Keterbatasan Bukan Pembatas

Setelah meluncurkan program Mendobrak Sunyi September lalu, Grab juga ingin melayani komunitas disabilitas lain, selain komunitas Teman Tuli.

Bonar adalah salah satu Teman Tuli Grab yang bekerja melayani pelanggan GrabBike dengan bahasa isyarat. Foto : metrojateng.com/dok.

 

BANDUNG – Keterbatasan bukan sebuah alasan untuk berpangku tangan. Setiap orang punya kesempatan, setiap orang punya hak untuk mencapai keinginan. Begitu pun dengan yang dilakukan Fajar Shiddiq. Teman tuli asal Bandung ini ingin bekerja layaknya orang biasa.

Fajar (27), pemuda yang ramah senyum ini, tidak pernah mengeluh dengan keterbatasannya. Meski tidak bisa mendengar, Fajar tahu dia masih memiliki kemampuan agar hidupnya mandiri. Salah satu usahanya dengan menjadi mitra pengemudi GrabCar di Bandung.

Sebelum bergabung dengan Grab, dia pernah bekerja di butik selama satu tahun. Dia bertugas memotong kain dan semacamnya. Namun, karena merasa tidak cocok dan penghasilannya terasa kurang, dia memilih berhenti.

“Awalnya saya sudah mencari kerja ke banyak tempat, tapi selalu ditolak. Saya bingung. Kemudian waktu itu, saya dapat info dari Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) soal kesempatan kerja di Grab. Mereka tahu kemampuan menyetir saya sangat baik,” jelasnya dengan menggunakan bahasa isyarat.

Setelah berdiskusi dan meminta restu orang tuanya serta meskipun tahu risiko bekerja di jalanan, Fajar tetap bertekad untuk bekerja sebagai mitra pengemudi Grab.

Setelah melamar dan tiga bulan menunggu, Fajar resmi menjadi mitra dan sebagai teman tuli pertama GrabCar di Bandung pada Juli 2019.

Setelah bekerja sebagai mitra GrabCar, Fajar mengaku mengalami perubahan, terutama keberanian untuk berkomunikasi.

“Dulu, waktu saya belum kerja di Grab, kadang-kadang saya merasa kurang percaya diri. Kalau bertemu orang juga khawatir salah ngomong, takut salah paham. Tapi, setelah masuk Grab, saya jadi berpikir, tidak apa-apa, meskipun saya tuli, saya tetap harus berani untuk berkomunikasi. Apalagi saya punya tanggung jawab agar customer selamat sampai tujuan, jadi saya harus berani,” tutur lelaki yang senang berolahraga ini.

Namun, Fajar sadar akan kemungkinan kesulitan berkomunikasi dengan customer, maka dia selalu mengatakan kepada setiap penumpangnya, “Maaf saya enggak bisa dengar. Jadi, kalau mau komunikasi bisa duduk di depan. Saya juga tempel poster (berisi informasi bahwa saya tuli dan informasi lainnya) di mobil saya, supaya customer paham,” jelasnya.

Sama dengan Fajar, Bonar Bangun Simanjuntak juga merupakan teman tuli GrabBike yang bermitra sejak April 2017. Saat bekerja, Bonar mengaku selalu mengirim pesan kepada penumpangnya tentang kondisinya yang tuli. Dia mengaku menerima segala tanggapan. Dan sejauh ini, dia tidak pernah merasa dirugikan.

“Saya tidak merasa minder. Saya berani. Saya merasa percaya diri dan merasa kuat juga,” ujar lelaki berusia 30 tahun itu menggunakan bahasa isyarat.

Niat teguh Bonar untuk bekerja bagi orang-orang yang dicintainya tak pernah luntur. Dia bekerja mulai pukul 4 subuh hingga 10 malam. Hal itu dilakukannya setiap hari. Keluarganya pun senang karena dia diberikan kesempatan untuk menafkahi mereka.

Neneng Goenadi, Managing Director Grab Indonesia mengatakan, pihaknya percaya bahwa setiap orang harus memiliki akses yang sama untuk mendapatkan peluang terlepas dari latar belakang atau kemampuan mereka.

“Setelah meluncurkan program Mendobrak Sunyi September lalu, kami juga ingin melayani komunitas disabilitas lain, selain komunitas Teman Tuli. Hal ini telah membuka mata kami pada kenyataan pahit bahwa terdapat banyak tantangan yang nyata bagi para penyandang disabilitas di Indonesia, untuk mencari peluang mendapatkan penghasilan,” ungkapnya.

Dan tentu saja, lanjut dia, hal ini bukan disebabkan oleh kurangnya upaya atau keinginan mereka untuk menciptakan masa depan yang lebih baik untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Di Grab, kami berkomitmen menjadi platform yang inklusif. Oleh karena itu, kami akan terus berdialog dan berkolaborasi dengan Gerkatin sebagai mitra asosiasi teman Tuli nasional.

Sekarang selain Gerkatin, Grab juga bekerja sama dengan PPDI dan Jangkau, untuk memahami dan membangun solusi yang dapat melayani kebutuhan para Teman Tuli dan komunitas disabilitas lainnya dengan lebih baik. (ang)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.