Tekan Perundungan, Sekolah Harus Ramah pada Siswa

Pentingnya penerapan nilai-nilai pendidikan karakter maupun Pancasila dilakukan sejak jenjang PAUD.

SEMARANG – Data dari Dinas Pendidikan Kota Semarang menunjukkan adanya penurunan kasus perundungan atau bullying dari 60% di tahun 2013 menjadi 5% pada saat ini. Namun untuk terus menekan kasus perundungan, sekolah diminta agar benar-benar bisa dijadikan rumah kedua bagi anak-anak.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi bercengkrama dengan siswa usai upacara Hari Guru, di Balai Kota Semarang, Senin (26/1/2018). Pencegahan bullying diawali dari sekolah. Foto: metrojateng.com/dok

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, kasus bullying tetap menjadi fokus perhatiannya meskipun jumlahnya semakin berkurang. Sebab menurutnya anak-anak hampir separuh waktunya ada di sekolah, sehingga orang tuapun juga mengikhlaskan anaknya untuk diajari di sekolah.

“Sebenarnya tolok ukur kami para orang tua mudah, melihat anak kita pagi-pagi semangat berangkat ke sekolah, sekolahnya pasti ramah anak” ujar Hendi sapaan akrab wali kota saat membuka kegiatan Sosialisasi Penerapan Pencegahan Bullying dan Disiplin Positif Tingkat SMP Kota Semarang, di Gedung Balai Kota, Senin (7/10/2019) lalu.

Hendi juga mengatakan bahwa perundungan bisa terjadi dimulai dari ajakan siswa untuk mengejek siswa lain. Atau bisa juga makian dari guru yang dilakukan secara tidak sadar kepada siswa.

Maka untuk menekan perundungan di sekolah, Hendi menginginkan agar sekolah benar-benar bisa dijadikan rumah kedua bagi anak-anak.

“Meski ada banyak tantangan, perilaku anak-anak kita di sekolah yang harus kita urai secara bersama-sama, kita evaluasi hubungan sesama temannya, dengan guru atau bahkan kita evaluasi kebijakan-kebijakan sekolah,” pesan Hendi.

Menurut Hendi, guru memiliki peran dalam pencegahan dan pengawasan kasus perundungan di sekolah baik yang berbentuk fisik maupun verbal.

“Tugas pertama guru adalah mengingatkan, tidak boleh misalnya ada anak diintimidasi oleh temannya yang badannya lebih gede, itu pasti dia terganggu” ungkap Hendi.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri mengungkapkan, bahwa perlunya peningkatan pengawasan yang dilakukan secara berjenjang di mana terdapat pengawas sendiri di setiap sekolah.

“Sifatnya jika ada laporan, maka kita panggil. Yang paling penting bagaimana menyangkut siswa, kami bisa memulihkan psikologi mereka,” ujar Gunawan.

Solusi lain yakni perlunya guru untuk meningkatkan mutu pendidikan karakter kepada para siswa. Ia menilai peran guru berhasil apabila perundungan di sekolahnya tidak ada lagi.

Lebih jauh, Gunawan menuturkan pentingnya penerapan nilai-nilai pendidikan karakter maupun Pancasila dilakukan sejak jenjang PAUD.

‘’Sebenarnya di PAUD tak langsung diajari teori, namun lebih kepada praktik nilai sopan santun, disiplin, keberanian, yang merupakan penerapan Pancasila,’’ imbuhnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.