Tekan Inflasi Daerah, Bank Indonesia Libatkan Ibu Rumah Tangga

gerakan nasional non tunai
Bank Indonesia bersama Perbankkan sosialisaskan GNNT di Loji Gandrung, Kamis (29/3). (foto: metrojateng.com/MJ-25)

SOLO – Sebagai upaya menekan inflasi di kota Solo, Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia (BI) Cabang Solo, mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk menjadi mitra dalam kampanye bijak berbelanja dan mendorong terciptanya konsumen cerdas di masyarakat.

Kampanye tersebut menjadi salah satu gerakan mengenalkan pangan non beras sebagai makanan alternatif yang cukup sehat dan bergizi bagi masyarakat Kota Surakarta. KPw BI juga mendorong Gerakan Bijak Berbelanja dengan Menjadi Konsumen Cerdas yang menekankan pentingnya membeli bahan-bahan sesuai kebutuhan, bukan keinginan.

“Dengan upaya tersebut, diharapkan konsumsi keluarga tetap terjaga dan dampak dari gejolak harga bahan pangan terminimalisir,” ujar Kepala KPw BI Cabang Solo, Bandoe Widiarto, Kamis (29/3).

Pentingnya sosialisasi terutama pada ibu rumah tangga tersebut mengingat beberapa bulan terakhir, harga beras dan komoditas holtikultura seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai merah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan seiring berkuranganya pasokan. Hal ini berdampak cukup besar terhadap inflasi di Kota Surakarta secara  keseluruhan.

Selain itu, peran Ibu menjadi ujung tombak penyediaan kebutuhan keluarga dan menentukan komoditas serta produk yang dikonsumsi. Diharapkan para ibu yang ikut serta dapat  menjadi mitra dalam kampanye bijak berbelanja dan mendorong terciptanya konsumen cerdas di masyarakat.

“Selain sosialisasi konsumen cerdas, BI juga melakukan sosialisasi Gerakan Nasional Non Tunai  atau GNNT, dimana ibu-ibu ini diajak untuk melakukan pembayaran secara non tunai, supaya peredaran uang kartal berkurang,” ungkapnya.

Sosialisasi GNNT dibawakan sendiri oleh perwakilan dari perbankan, yang telah berhasil memfasilitasi penggunaan non tunai untuk transaksi di Pemerintah Kota. Pengenalan penggunaan non tunai penting kepraktisan, kemudahan transakasi dan keamannya memiliki nilai lebih dibandingkan dengan uang tunai.

“Saat ini jumlah transaksi non tunai di Kota Solo baru mencapai 30%, sedangkan transaksi tunai masih mendominasi penggunan terbesar sebesar 70%,” imbuh Bandoe. (MJ-25)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

89 − = 87

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.