Teatrikal Kemerdekaan ‘Selembar Merah’ dari Warga Kandri

Para pemain teater ini tidak mempunyai latar belakang seni peran, tapi antusias saat pentas.

SEMARANG- Ada yang berbeda dari peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-73 di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Sebuah pementasan teater yang menceritakan perjalanan susahnya para pejuang mengibarkan bendera merah putih dimainkan oleh warga kampung tersebut.

Warga Kandri mementaskan teatrikal berjudul  Selembar Merah di Tanah Merdeka, Jumat (17/8/2018). Foto: metrojateng.com/Efendi

Dipentaskan di pelataran Omah Alas, sanggar seni dan budaya yang terletak di Kampung Kandri, teater tersebut menghadirkan sejumlah tokoh panitia kemerdekaan Indonesia. Diantaranya Sajuti Melik, Tan Malaka, HOS Tjokroaminoto, Laksamana Tadashi Maeda dan beberapa lainnya.

“Masyarakat di Indonesia tahunya ketika merdeka hanya Soekarno dan Hatta, padahal di belakang soekarno itu ada tokoh-tokoh penting yang mungkin tidak begitu dikenal oleh masyarakat saat ini,” ujar sang sutradara, Wahyono Gunung Mahesa, usai pertunjukan, Jumat (17/8/2018).

Gunung sapaannya, juga mengatakan kegiatan tersebut memang sengaja digelar untuk memberi warna lain dalam berupacara. Menurutnya, upacara peringatan kemerdekaan tidak harus dilakukan seperti biasanya, namun ada cara lain yang juga bisa memberikan edukasi kepada generasi penerus bangsa.

“Mengapa kami melakukan upacara dengan bentuk teater seperti ini, sebenarnya itu merupakan bentuk kegelisahan kami, upacara kenapa harus seperti itu, kami ingin melakukannya dengan cara lain, dengan menghadirkan sejumlah tokoh kemerdekaan yang mungkin masyarakat Indonesia saat ini tidak begitu mengenal mereka,” imbuh Gunung.

Sementara itu, teater berjudul ‘Selembar Merah di Tanah Merdeka’ diperankan oleh puluhan remaja kampung Kandri serta sejumlah mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN di kampung tersebut. Hanya butuh waktu dua minggu untuk bisa mendalami peran sebagai pahlawan bangsa serta pasukan bambu runcing.

Adegan teater tampak memanas saat salah seorang pejuang yang membawa bendera dihadang oleh sejumlah penjajah. Ia dihajar habis-habisan hingga darah membasahi tubuhnya. Namun dengan kegigihannya bendera pusaka tetap dalam genggamannya meski badannya berlumuran darah.

“Memang garis besarnya bercerita tentang, betapa untuk mengibarkan merah putih itu melalui proses panjang dan berdarah-darah, mengorbankan nyawa, harta, bahkan keluarganya ditinggalkan hanya untuk satu bahasa kemerdekaan dengan cara para pejuang, dan akhirnya merah putih berkibar sebagai simbol bahwa indonesia itu adalah merah dan putih, atas keberanian dan ketulusan para pejuang kepada indonesia saat itu,” tukas Gunung.

Penulis naskah “Selembar Merah di Tanah Merdeka” Erpian, mengatakan teater yang digelar tersebut dipentaskan untuk menghormati kemerdekaan. Meski upacara yang dilakukan berbeda dari biasanya, namun ada banyak pesan yang ingin disampaikan, salah satunya mengenalkan tokoh-tokoh dibalik perjuangan kemerdekaan.

“Terlebih diri kita sendiri agar ingat bahwa kemerdekaan itu diperjuangkan bukan hanya kita dapat begitu saja tapi dengan tangisan darah dan airmata para pejuang yang harus kita pertahankan dan perjuangkan sampai titik darah kita sendiri,” ungkap Erpian atau yang sering dipanggil Kang Ian.

Ia juga mengatakan, para pemeran teater ini sebetulnya tidak mempunyai latar belakang seni peran. Namun ia mencoba mengajak mereka dengan menanamkan dalam hati mereka tentang perjuangan pendahulu dalam mewujudkan kemerdekaan.

“Mereka ini tidak ada basic teatrikal, sastrawan, tetapi karena kita tadi memasukkan dalam hati mereka, ayo kita sama-sama selami seperti apa perjuangan para pendahulu kita, sehingga mereka mau dan antusias untuk memerankan. Kemerdekaan bukan hanya sekadar upacara, bukan hanya prosesi seperti itu, tapi lebih kepada ada ritualnya, ada perjuangan di situ,” kata Ian.

Upacara dengan gaya teater seperti ini baru pertama kalinya digelar di Omah Alas. Tahun sebelumnya mereka hanya merayakan dengan berbagai penampilan pakaian adat dari seluruh Indonesia. Dengan gaya teater seperti ini menurut Kang Ian, akan lebih mudah menyalurkan edukasi dengan penggambaran semangat persatuan kepada generasi penerus bangsa.

“Ini juga untuk mengingatkan kembali kepada negara ini bahwa Indonesia itu direbut dengan persatuan, tidak peduli kamu bangsa apa, suku apa, bahkan di situ ada laksmana maeda yang dia merupakan lakasmana dari Jepang tapi dia sangat peduli kepada bangsa Indonesia dan sangat pro kepada negara Indonesia. Jadi ini suatu bentuk edukasi kepada adik-adik di sini agar mereka tidak melupakan ada orang-orang penting dibalik emerdekaan,” pungkas Ian. (fen)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.