Tanah Liat Makin Susah Dicari, Keramik Mayong Jadi Makin Langka

?

Jepara – Keramik Mayong yang diproduksi di Desa Mayong Lor, Kabupaten Jepara mulai sulit dicari di pasaran. Pasalnya, pengrajin sudah mulai tidak memproduksi lagi.
Penyebab langkanya keramik Mayong adalah sulitnya mencari bahan mentah tanah liat. Tanah liat lokal hanya dapat dibuat kerajinan gerabah. perbedaan gerabah dengan keramik hanya pada proses pembakaran. Jika gerabah, hanya membutuhkan temperatur sekitar 800-900 derajat celcius. Namun, untuk menghasilkan keramik dibutuhkan sedikitnya 1.000 derajat celcius.
“Perbedaannya hanya besaran derajat celcius api pembakaran. Nah, tanah Mayong yang dijadikan bahan baku hanya mampu maksimal dibakar 900 derajat celcius. Jadi, hanya bisa memproduksi gerabah,” kata Sugiyanto, pengrajin gerabah Desa Mayong Lor, Senin (24/7/2017).
Tanah liat Mayong butuh kombinasi jika diproduksi menjadi keramik. Diantaranya tanah Celering, atau bekerjasama dengan Balai Besar Keramik Bandung untuk medapatkan bahan baku.
“Tapi butuh modal banyak. Padahal harga jual harus bersaing dengan keramik dari daerah lain,” tandasnya.
Menurutnya, selain itu, gerabah sudah memiliki pasarannya sendiri. Dia bahkan sudah berhenti produksi keramik sejak 1996 lalu.
“Kalau gerabah sudah ada pasarannya. Kalau keramik susah jual nya sekarang,” pungkasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

6 + 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.