Taman Gesang, Nasibmu Kini

Pihak keluarga berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bisa memberikan perhatian dan menghidupkan kembali Taman Gesang.

SOLO – Kondisi Taman Gesang yang terletak di tepi Sungai Bengawan Solo, Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo, sangat memprihatinkan. Taman yang dibangun sebagai penghargaan kepada komponis lagu Bengawan Solo, Gesang itu seolah tinggal menunggu waktu untuk dilupakan.

Taman Gesang di tepi Bengawan Solo yang semakin memprihatinkan. Foto: metrojateng.com

Taman yang diresmikan pada 1 Oktober 1993 oleh Ketua Perhimpunan Dana Gesang Jepang, Mitsuo Hirano dan Wali Kota Solo, R Hartomo hanya bersisa puing-puing bangunan yang sudah keropos dan rusak.

Dari pantauan metrojateng.com, taman tersebut terlihat mangkrak. Masih ada gapura di bagian depan dengan gaya arsitektur Jepang yang bertuliskan Taman Gesang, patung Gesang, jembatan bambu khas Jepang, serta hiasan pesawat latih jenis Vultee BT-13 Valiant Buatan Amerika serikat tahun 1951. Tapi sudah tak terawat.

Bangunan panggung musik dan tribun penonton juga hanya menyisakan tiang-tiang beton dan tempat duduk. Bahkan sampah-sampah berserakan di area taman.

“Saya sangat prihatin dengan kondisi Taman Gesang saat ini. Padahal taman itu untuk mengenang Gesang yang telah mengharumkan Solo dan Indonesia di dunia,” ujar Keponakan Gesang, Fryda Setyowati saat ditemui di rumahnya Kemlayan, Serengan, Solo, Jumat (9/11/2018).

Pihak keluarga berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bisa memberikan perhatian dan menghidupkan kembali Taman Gesang. Menurut Fryda, Taman Gesang memiliki sejarah yang bernilai tinggi selain itu sebagai wujud keakraban masyarakat Kota Solo dengan warga Jepang.

Di sisi lain, Pemkot Solo berencana membangun Bengawan Solo Park di area Taman Gesang. Banyak warga dan tokoh masyarakat Solo yang berharap adanya pembangunan tersebut bisa membangkitkan kembali kejayaan Bengawan Solo dan Sang Maestro Keroncong.

“Kami berharap pemerintah bisa sesegera mungkin membangun kembali Taman Gesang tanpa mengurangi nilai sejarahnya,” ujar salah satu warga Solo, Rohibin (45).

Lagu Bengawan Solo, menjadi karya legendaris yang melambungkan nama Gesang ke kancah internasional. Gesang meninggal dunia pada 20 Mei 2010. Meski saat ini sang maestro telah tiada, namun karya-karyanya bakal tetap dikenang sepanjang masa. (MJ-25)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.