Tak Sampai Lima Menit, Empat Gunungan Kirab Rajaban Ludes Dirayah Warga

?

KENDAL –  Ada tradisi tahunan warga Dukuh Protokulon, Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan Kendal menjelang bulan puasa. Memasuki bulan rajab warga menggelar tradisi kirab gunungan hasil bumi keliling kampung.

Kirab dilaksanakan setiap Kamis Wage di bulan Rajab dan tahun ini digelar Kamis (30/03) siang. Warga mulai anak-anak hingga orang tua, berkumpul di sekitar lapangan bulu tangkis dengan membawa beragam makanan tradisional. Sementara di sebelah utara emat gunungan terdiri atas nasi tumpang, sayur mayur hasil bumi, jajan pasar, dan gunungan buah-buahan telah disiapkan.

Sejumlah tokoh masyarakat dukuh setempat memberikan petuahnya. Setelah itu, empat gunungan di pinggul belasan pemuda menuju pendapa Makam Pangeran Djuminah yang berjarak sekitar satu kilometer. Jalan menuju pendapa Makam Pangeran Djuminah merupakan daerah perbukitan. Warga harus menempuh lokasi yang menanjak. Setibanya di pendapa, tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan warga melakukan tahlil dan doa bersama.

Warga dukuh Protokulon, melaksanakan kirab Rajaban Astana Kuntul Nglayang. Acara keagamaan tersebut dilakukan setiap malam Jumat Kliwon di bulan Rajab. Setelah berdoa, warga saling menukar makanan yang mereka bawa. Kirab semakin meriah, ketika warga saling berebut gunungan.

Mulai dari anak-anak hingga orang tua, saling berebut untuk mendapat berbagai makanan, buah, sayur, dan jajan pasar yang tersusun dalam bentuk gunungan. Kurang dari lima menit, gunungan yang semula berisi berbagai makanan tersebut habis.

Ketua Panitia Kirab Rajaban, Prabowo Sumiarto, mengatakan, rajaban astana kuntul nglayang turun temurun dilakukan warga Dukuh Protokulon. Dia menjelaskan, disebut rajaban Astana Kuntul Nglayang karena lokasi makam Pangeran Juminah yang berada di daerah perbukitan, bila di lihat dari udara seperti burung Kuntul yang terbang.

Kepala perbukitan terdapat makam Pangeran Djuminah, bagian dada makam Sunan Katong, sayap kanan makam Wali Musafak dan Kiai Mustofa serta sayap kiri terdapat makam Kiai Asyhari atau Kiai Guru sedang bagian ekor makam Pakuwojo.

”Sebelumnya, warga secara sendiri-sendiri maupun berkelompok melakukan rajaban tersebut. Tradisi kirab ini sudah kami lakukan delapan tahun terakhir. Hal itu untuk mempersatukan warga antardusun maupun desa. Kirab rajaban tersebut bukan ritual, tetapi merupakan tradisi keagamaan,” kata dia.

Siamah (60), salah seorang warga mengaku senang dengan rajaban tersebut. Menurutnya, hal itu menunjukkan masyarakat Kaliwungu Selatan, khususnya Desa Protomulyo masih melestarikan peninggalan nenek moyang. ”Saya setiap tahun selalu mengikuti tradisi ini. Saya ikut berebut jajanan untuk mendapatkan berkah,” tutur perempuan yang mengaku mendapat sejumlah sayur mayur dan buah-buahan dari kirab. (MJ-01)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

27 − 17 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.