Tabung Gas Merah Muda Bikin Dapur Perajin Kulit Lunpia Makin Ngebul

Gerakan Beralih ke LPG Nonsubsidi

Pertamina juga mengubah Kampung Bonlancung menjadi Kampung Bright Gas Sentra Kulit Lunpia sebagai kampung wisata yang terbuka untuk wisatawan. 

Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV Jawa Tengah dan DIY terus berupaya mendorong masyarakat kelas menengah ke atas untuk beralih dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi 3kg ke nonsubsidi (Bright Gas). Berbagai cara dilakukan melalui sejumlah program, seperti apa gerakan masif Pertamina di wilayah Jawa Tengah dan DIY, simak laporan berikut.

Perajin kulit lunpia sedang melakukan proses produksi di Kampung Bright Gas Sentra Kulit Lunpia di Kampung Kranggan Dalam Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Para perajin disana telah menggunakan bahan bakar tabung gas bersubsidi sejak akhir 2017 lalu. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

WAKTU menunjukkan pukul 09.00 pagi, ketika umumnya permukiman atau kampung-kampung mulai ditinggalkan sebagian penduduknya untuk bekerja di luar rumah. Berbeda dengan suasana di Kampung Kranggan Dalam, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Kampung yang warganya tinggal di gang-gang dengan rumah yang berdekatan hanya terpisah tembok dan saling berhadapan itu tampak sibuk. Jalan gang yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua itu sudah dipenuhi dengan ember-ember berisi adonan tepung yang kental dan kompor gas serta wajan. Sejumlah warga menghadap alat masak tersebut dan dengan cekatan mengambil adonan tepung terigu yang kental dari ember, lalu dimasukkan ke dalam wajan panas di atas kompor gas.

Hanya butuh beberapa detik, adonan terigu yang dioleskan di wajan panas menjadi lembaran-lembaran kulit lunpia. Pemandangan seperti itu sudah biasa ada sejak tahun 1970 Kampung Kranggan Dalam atau terkenal dengan Bonlancung adalah sentra produksi kulit lunpia.

Terdapat kurang lebih 40 pengusaha kulit lunpia dengan mempekerjakan puluhan pekerja di sana. Warga memanfaatkan teras rumah maupun ruang tamu sebagai dapur produksi kulit lunpia. Bahkan kampung ini dikenal tak pernah tidur, karena memiliki aktivitas selama 24 jam nonstop memproduksi kulit lunpia yang kemudian dijual ke penjual lunpia di Kota Semarang dan kota-kota besar di Indonesia.

Agar roda perekonomian tetap berputar, terutama membuat dapur produksi tetap ngebul, tentu para perajin kulit lunpia ini membutuhkan bahan bakar. Jika dulu mungkin menggunakan minyak tanah, kemudian konversi ke tabung gas subsidi LPG 3 kg, tapi sejak akhir tahun 2017 atau sekitar setahun lalu sentra produksi kulit lunpia di Kampung Kranggan Dalam mulai beralih ke tabung gas nonsubsidi Bright Gas 5,5 kg.

Inisiasi itu dilakukan oleh Pertamina MOR IV Jateng-DIY untuk mengajak warga beralih ke bahan bakar yang lebih baik dan berkualitas. Untuk mengenalkan LPG nonsubsidi dengan kemasan baru tabung berwarna merah muda dan mempunyai bobot 5,5kg itu Pertamina tidak hanya memberikan stimulan ke warga berupa tabung gas tersebut, tetapi juga mengubah Kampung Bonlancung menjadi Kampung Bright Gas Sentra Kulit Lunpia sebagai kampung wisata yang terbuka untuk wisatawan.

Dari dana corporate social responsibility (CSR), pengembangan kampung percontohan penggunaan LPG nonsubsidi 5,5kg itu meliputi pembangunan ruang publik berupa taman yang ramah anak, merenovasi tempat usaha, dan pemugaran gapura kampung. Tidak hanya sedap dipandang mata, perekonomian di sana terus tumbuh seiring manfaat yang bisa dituai dari konsumsi Bright Gas.

Seperti pengalaman salah satu perajin kulit lunpia, Mustakim. Dalam sehari, dia mampu membuat sebanyak 2.000 lembar kulit lunpia. Kulit lunpia itu, dijual Rp 20 ribu sampai Rp 45 ribu per bungkusnya yang berisi 100 lembar kulit lunpia.

“Ukuran kulit lunpia yang kecil Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Kalau yang besar Rp 40 ribu sampai Rp 45 ribu per 100 lembar,” katanya.

Hemat Bahan Bakar

Menurut dia, sejak menggunakan Bright Gas 5,5kg konsumsi bahan bakar untuk produksi kulit lunpia lebih hemat dan ekonomis.

“Dulu pakainya tabung gas 3kg, sekarang pindah ke ukuran 5,5 kilogram. Hasilnya satu tabung itu bisa membuat kulit lunpia dari 1,5 karung atau 30kg tepung terigu,” tuturnya.

Konsumsi bahan bakar para perajin yang ada di sana pun kini lebih hemat dari yang semula menggunakan 210 tabung 3 kg per hari menjadi 105 tabung 5,5 kg per hari.

Gerakan untuk mengajak masyarakat beralih ke LPG nonsubsidi tidak berhenti pada pengembangan Kampung Bright Gas Sentra Kulit Lunpia Kranggan Dalam Semarang. Pertamina juga terus mengedukasi melalui program-program lainnya.

Unit Manager Comm & CSR MOR IV PT Pertamina (Persero), Andar Titi Lestari mengatakan, untuk Kampung Bright Gas selain yang ada di Kranggan Dalam sebagai sentra kulit lunpia pihaknya juga mengembangkan di Kampung Ledok Tukangan Yogyakarta.

“Dalam rangka branding dan kampanye produk Bright Gas 5,5kg, kami pun menyulap Kampung Ledok yang dulu terkenal sebagai kampung preman menjadi kampung wisata yang sekaligus bisa memberikan edukasi kepada pengunjung atau warga kampung lainnya. Kami mendorong kewirausahaan warga dengan menjadikan kampung tersebut depo penjualan/trade in LPG nonsubsidi Bright Gas,” katanya.

Trade in atau program menukar dua tabung gas 3 kg dengan Bright Gas 5,5 kg ini juga dilakukan di sejumlah titik di Jawa Tengah dan DIY seperti di pasar tradisional atau menggandeng agen-agen LPG.

“Kami juga melakukan sidak ke industri dan rumah makan untuk mengajak pelaku usaha yang masih menggunakan tabung gas subsidi 3kg beralih ke Bright Gas minimal pakai ukuran 5,5 kg,” ungkapnya.

Bahkan, lanjut Andar, belum lama ini sebanyak 60 peternak ayam broiler yang dinaungi oleh empat paguyuban peternakan ayam di Kabupaten Boyolali telah beralih menggunakan LPG nonsubsidi. Pertamina memberikan bantuan CSR berupa Instalasi LPG nonsubsidi yang digunakan sebagai sumber energi untuk alat penghangat tubuh ayam broiler dan berhasil memberikan penghematan bagi kuota LPG subsidi sekitar 96.000 tabung selama setahun.

“Sebelum ada instalasi ini, satu peternak ayam dapat menggunakan LPG 3 kg bersubsidi hingga ± 85 tabung untuk setiap masa breeding (± 35 hari kerja) karena LPG ini menjadi sumber energi bagi alat penghangat tubuh ayam,” jelasnya.

Gerakan masif ini berdampak positif terhadap pertumbuhan konsumsi LPG nonsubsidi. Sejak Bright Gas 5,5 kg diluncurkan di Jawa Tengah pada 2016, saat itu konsumsinya mencapai 9.352 metrik ton (MT) per tahun. Namun, pada tahun 2017 terjadi peningkatan konsumsi menjadi 21.3017 MT per tahun dan terus meningkat di tahun 2018 mencapai 29.356 MT per tahun. (Anggun Puspita)

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.