Sultan Trenggana Pahlawan Kultural Masyarakat karena Kiprahnya

Berdasarkan fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa Demak mengalami kemajuan pada periode Sultan Trenggana.

DEMAK – Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL) menggelar diskusi membedah sosok Sulatan Trenggana di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Itu menyusul mencuatnya wacana sebagian masyarakat yang menyangsikan keberadaan raja Demak itu.

Diskusi menyegarkan sejarah Raden Fatah, Senin (9/9/2019). Foto: metrojateng.com

Perwakilan YDBL, Edi Hidayat, menyampaikan pandangan masyarakat yang menyangsikan keberadaan Sultan Trenggana tidak menjadi masalah sepanjang didukung data dan fakta historis. Namun fakta yang ada menunjukan eksistensi Sultan Trenggana sebagai penguasa kerajaan islam Demak.

“Berdasarkan fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa Demak mengalami kemajuan pada periode Sultan Trenggana. Bagi masyarakat Demak, Sultan Trenggana adalah pahlawan kultural masyarakat,” ujar Edi di sela-sela kegiatan diskusi menyegarkan sejarah Raden Fatah, Senin (9/9/2019).

Edi menyatakan, sebagian besar masyarakat mengetahui sejarah, eksistensi, dan kiprah Sultan Trenggana sebagai raja Demak. Banyak literatur yang menggambarkan tentang kerajaan islam pertama di Jawa ini. Raden Fatah adalah pendiri dan raja yang menganut agama islam di Jawa.

“Selama masa kekuasaan Raden Fatah hingga Sultan Trenggana, Demak merupakan pusat penyebaran agama islam dan pusat kekuasaan politik, yang memegang peranan penting dalam bidang perdagangan,” papar Edi.

Ditambahkan Edi, YDBL yang didirikan Lestari Moerdijat atau biasa disapa Rerie, tengah menggali dan merawat nilai-nilai luhur para tokoh yang telah berjasa bagi bangsa ini. Salah satu kegiatan yang sedang dikembangkan adalah, menyegarkan kembali bentuk, fungsi, dan makna atas nilai-nilai kejuangan Raden Fatah serta keturunannya.

Tim pakar YDBL, Alamsyah, mengungkapkan Sulatan Trenggana memimpin kerajaan Demak pasca Raden Fatah digantikan Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor. Adipati Unus meninggal pada usia sangat muda dan belum mempunyai keturunan. Wafatnya Adipati Unus memunculkan instabilitas karena tidak berputera.

“Sehingga mengakibatkan terjadinya perebutan kekuasaan sesama keturunan Raden Fatah, yaitu antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen dan Sultan Trenggana, hingga yang berkuasa adalah Sultan Trenggana,” ungkap Alamsyah.

Sultan Trenggana merupakan Sultan ke-3 Kerajaan Islam Demak yang memerintah antara tahun 1521 hingga 1546 atau selama 25 tahun. Dia menggantikan Adipati Unus (1518-1521).

Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana upaya yang dilakukan adalah perluasan kekuasaan dengan mengirim pasukan di bawah pimpinan Falatehan, tokoh yang menikah dengan saudara perempuan Sultan Trenggana.

“Joao de Barros dalam bukunya Da Asia menggambarkan relasi antara Sultan Trenggana dengan dengan Falatehan, yang merupakan putra Pasai yang kecewa ketika wilayahnya dikuasai oleh Portugis,” tandas Alamsyah.(MJ-23)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.