Srondol Kulon Raih Juara I Program Kampung Iklim

Perubahan iklim sudah menjadi fenomena lingkungan yang nyata dan diakui sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia.

SEMARANG – Kelurahan Srondol Kulon Kecamatan Banyumanik kembali menorehkan prestasi. Kali ini kelurahan yang berada di daerah atas ini berhasil meraih juara pertama lomba Program Kampung Iklim atau Proklim Tahun 2019 yang dilaksanakan oleh DLH Kota Semarang.

Kabid Pengendalian, Pencemaran dan Konservasi Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Setiawati Eko Pratiwi, menyerahkan penghargaan pada perwakilan Kelurahan Srondol Kulon Kecamatan Banyumanik. Foto: metrojateng.com/masrukhin abduh

Juara II sukses diraih oleh Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur dan Kelurahan Podorejo Kecamatan Ngalian harus puas diurutan ketiga. Sedangkan tampil sebagai juara harapan satu dan dua masing-masing diraih Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tembalang dan Kelurahan Sambiroto Kecamatan Tembalang.

Para juara mendapat penghargaan yang diserahkan oleh Kabid Pengendalian, Pencemaran dan Konservasi Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Setiawati Eko Pratiwi. Selain pimpinan kelurahan, perwakilan warga juga ikut hadir dalam momen yang membahagiakan itu.

Setiawati Eko Pratiwi mengatakan lomba ini merupakan salah satu upaya DLH Kota Semarang mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengatasi  persoalan perubahan iklim.

“Perubahan iklim sudah menjadi fenomena lingkungan yang nyata dan diakui sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia,” katanya.

Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Kelompok Kerja-1 yang diluncurkan pada bulan September 2013 terkait dengan penyusunan Assesment Report ke-5 (AR5), menyebutkan bahwa kenaikan suhu permukaan bumi di wilayah Asia Tenggara pada abad ini berkisar antara 0,4-1oC.

“Diperkirakan akan terus meningkat antara 1,5-2oC pada periode 30 tahun mendatang,” katanya. Dia menambahkan perubahan suhu yang terjadi saat ini diyakini sebagai akibat terjadinya akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer.

Berbagai kegiatan manusia dalam pembangunan menyebabkan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer semakin bertambah, termasuk penggunaan bahan bakar fosil, proses penguraian sampah dan limbah, penggunaan pupuk kimia serta pembakaran jerami.

Keberadaan GRK di atmosfer menyebabkan radiasi gelombang panjang sinar matahari terperangkap sehingga suhu bumi menjadi naik dan mengakibatkan perubahan iklim. Peningkatan GRK di atmosfer diperparah oleh berkurangnya luas hutan atau deforestasi yang mempunyai kemampuan untuk menyerap CO2.

Kenaikan suhu bumi meningkatkan ancaman terhadap risiko terjadinya bencana terkait iklim seperti banjir, longsor, kekeringan, gagal panen, keragaman hayati, kenaikan muka air laut serta kesehatan manusia.

Perubahan iklim merupakan sebuah realitas yang telah dirasakan secara luas di berbagai belahan dunia, sehingga diperlukan aksi nyata untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim serta upaya pengurangan emisi GRK sebagai komponen yang diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan.

”Dalam rangka meningkatkan pemahaman mengenai perubahan iklim, melalui kegiatan ProKlim dan mendorong masyarakat Kota Semarang untuk berpartisipasi dalam ProKlim, Dinas Lingkungan Hidup adakan lomba ProKlim yang diikuti sejumlah kelurahan,” katanya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.