Sindikat Penjualan Cangklong Gading Gajah Dibongkar

Barang bukti yang disita mulai sebuah gading utuh berukuran 30 sentimeter, potongan gading berukuran 20 sentimeter sebanyak 18 buah, ratusan cangklong rokok

SEMARANGPetugas gabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama aparat TNI/Polri serta BKSDA Jateng meringkus kawanan sindikat penjualan gading gajah di sejumlah desa Kabupaten Pati. Tindak kejahatan itu berhasil dibongkar petugas pada 28 April kemarin dengan mengamankan gading gajah yang telah diolah menjadi cangklong rokok serta ragam aksesoris gelang dan kalung.

Barang bukti cangklong dan aksesoris dari gading yang disita petugas KLHK dan BKSDA Jateng. Foto: metrojateng.com/fariz fardianto

Perdagangan gading gajah tersebut terlacak melalui transaksi online. Petugas gabungan kemudian mengintensifkan pemantauan di tiga akun Facebook yang kedapatan memperdagangkan bagian tubuh mamalia tersebut.

Direktur PPH-Ditjen Gakkum KLHK, Sustyo Iriyono mengaku dari penyelidikan tersebut, petugasnya sukses menangkap tiga pemilik akun Facebook yang memperdagangkan gading gajah.

“Hasil barang bukti yang kita sita berupa cangklong rokok, cincin, gelang dan kalung yang terbuat dari gading gajah. Semuanya sudah kita amankan dari operasi gabungan di Pati,” ungkap Sustyo, kepada metrojateng.com, Selasa (30/4/2019).

Untuk mengelabuhi petugas, para pelaku menamai akun medsosnya dengan nama samaran chanif mangku bumi, onny pati dan wong brahma. Namun, setelah ditelusuri mereka sangat intens menjual cangklong rokok yang terbuat dari gading gajah.

“Pemesanan dilakukan via online ke seluruh Indonesia,” cetusnya.

Ketiga pelaku yang dimaksud antara lain, OF (38 Tahun), CK (44 Tahun) dan MHF (31 Tahun). Barang bukti yang disita mulai sebuah gading utuh berukuran 30 sentimeter, potongan gading berukuran 20 sentimeter sebanyak 18 buah, ratusan cangklong rokok hingga gelang dan kalung.

“Kami terus meningkatkan pemantauan perdagangan satwa dilindungi secara online melalui siber patrol untuk mendeteksi dini kejahatan TSL di dunia maya dan memberantas jaringan lnya hingga ke akarnya. Ini untuk melindungi kekayaan alam Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang tinggi,” ujar Sustyo.

Para pelaku dijerat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Pasal 40 Ayat 2 Jo. Pasal 21 Ayat (2) huruf d. Ancaman penjaranya mentok lima tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000.

Dirjen Gakkum KLHK, Rasio Ridho Sani mensinyalir pemanfaatan gading gajah belakangan ini sangat signifikan seiring dengan tingkat kematian gajah akibat perburuan liar yang cukup tinggi. “Kami akan mengembangkan penyidikan jaringan perdagangan ilegal gading gajah apakah berasal dari dalam atau luar negeri,” pungkasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.