Sihati, Berhasil Kendalikan Inflasi Hingga Buat Jokowi Jatuh Hati

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memaparkan tentang sistem informasi harga dan produksi komoditi (Sihati) pada kegiatan “Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017” di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Senin (20/11). (foto : metrojateng.com/Anggun Puspita)
JAKARTA – Konsep sistem informasi harga dan produksi komoditi (Sihati) yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah sudah berjalan hampir lima tahun. Mulai generasi pertama hingga ketiga, aplikasi pemantau harga komoditas yang kini bisa diunduh di Playstore melalui ponsel Android itu telah terbukti ampuh menekan inflasi di Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memaparkan keberhasilan Sihati dalam menstabilkan harga komoditas pangan hingga menekan inflasi di provinsi yang dipimpinnya pada kegiatan “Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017” di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Senin (20/11).
“Dalam beberapa tahun terakhir inflasi Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan nasional. Kita berhasil mengendalikan inflasi dalam level yang rendah,” ungkapnya.
Pada tahun 2015, inflasi di Jawa Tengah sebesar 2,73% sedangkannasional 3,35%. Kemudian pada 2016 inflasi Jawa Tengah 2,36% dannasional 3,02%.
“Jika inflasi rendah maka dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan bila harga pangan stabil. Sebab, konsumsi pangan memiliki pasar besar pada pengeluaran kelompok masyarakat miskin. Selain itu, inflasi rendah akan mengurangi risiko spekulan oleh produsen yang melakukan penimbunan barang,” jelasnya.
Maka itu, untuk menekan inflasi, menstabilkan harga, dan mengurangi kemiskinan, pemerintah, Bank Indonesia, serta tim pengendali inflasi daerah (TPID) berkoordinasi dan berinovasi dengan teknologi yakni menerapkan protokol manajemen harga. Khususnya bagi Bank Indonesia Jawa Tengah, upaya itu juga seiring dengan fungsi koordinasi dan komunikasi kebijakan yakni program pengendalian dan pengawasan harga melalui lima langkah atau dikenal Pandawa Lima.
“Kami kembangkan Sihati dari yang hanya berbasis web hingga sekarang mobile phone berbasis Android. Melalui aplikasi ini kami dapat melakukan early morning indicator untuk melihat kondisi harga-harga setiap saat. Jika ada lonjakan harga, kami langsung analisa dan berdiskusi melalui virtual meeting di ruang chatting yang beranggotakan pemangku kepentingan dalam hal pengendalian harga dan inflasi. Sehingga, kami bisa bergerak sangat cepat,” jelasnya.
Hanya dalam satu genggaman smartphone pergerakan harga dari seluruh kabupaten/kota dapat terpantau dan gejolak langsung bisa teratasi. Bahkan pada Sihati generasi ketiga makin memudahkan produsen atau kalangan petani dan peternak di Jawa Tengah dalam menentukan rencana tanam atau pembiakan, sehingga mampu menekan harga jatuh saat panen raya dan mengurangi lonjakan harga ketika kelangkaan produksi terjadi.
”Bagi konsumen atau masyarakat, aplikasi ini bermanfaat untuk mengelola ekspektasi positif karena adanya transparansi harga dan pasokan,” imbuhnya.
Diterapkan Nasional
Ke depan melalui aplikasi ini harapannya dapat meningkatkan perdagangan antar daerah. Misalnya, Jawa Tengah sebagai penghasil bawang merah dapat mengirim komoditas tersebut ke daerah yang bukan penghasil bawang merah. Solusi-solusi dari sistem tersebut mendapat apresiasi dari Presiden Joko Widodo untuk diterapkan di seluruh wilayah di Indonesia, sehingga pemerintah sebagai pemegang kebijakan bisa mengendalikan harga yang terjadi di lapangan
“Sesuai arahan Presiden, pada prinsipnya kami siap melakukan pendampingan jika ada provinsi lain ingin mengadopsi aplikasi Sihati. Dalam hal ini, kami tetap menggandeng Bank Indonesia di masing-masing daerah untuk mengevaluasi pergerakan harga komoditas, sehingga saat salah satu komoditas mendekati zona merah atau sudah masuk zona merah harus segera diambil tindakan intervensi untuk menekan pergerakan harga, imbuh Ganjar.
Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Yoga Affandi menambahkan, 25 Januari 2017 pemerintah dan Bank Indonesia menyepakati enam langkah strategis untuk menjaga inflasi 2017 agar tetap berada dalam kisaran41% target 2018 di 3,51%, serta penetapan sasaran inflasi 2019-2021 pada 3,51%31%.
“Dalam mengendalikan inflasi di daerah harus ada 4K yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif,” katanya. (ang)
Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

17 + = 21

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.