Siasati Kabar Obat HIV Habis, Puskesmas Halmahera Berikan Obat Tunggal

Kemenkes memberitahukan kalau persediaan obat HIV akan habis di bulan Maret 2019.

Apoteker Puskesmas Halmahera, Arvin Faizatun, ketika ditemui metrojateng.com di kantornya, Jalan Halmahera, Selasa (5/3/2019). (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Sejumlah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Semarang memastikan persediaan obat-obatan untuk konsumsi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) saat ini masih mencukupi.

Menurut pengelola Puskesmas Halhamera, di Kecamatan Semarang Selatan, persediaan ARV masih bisa disediakan selama kurun waktu dua bulan ke depan.

“Ketika ada kabar dari Kemenkes bahwa stok obat untuk ODHA akan habis pada Maret ini, maka di tempat kami sendiri persediaannya masih cukup. Bahkan untuk dua bulan ke depan. Sebab, saat kami memerlukan obat sebanyak 10 botol misalnya, kami memesan ke Kemenkes agar dikirimkan 15 botol, jadi masih ada kelebihan obat untuk jaga-jaga bila sewaktu-waktu habis atau stoknya menipis atau kalau ada rujukannya bertambah,” kata seorang apoteker Puskesmas Halmahera, Arvin Faizatun, ketika ditemui metrojateng.com di kantornya, Jalan Halmahera, Selasa (5/3/2019).

Obat ARV yang dimaksud adalah untuk jenis tablet Fixed Dosen Combination (FDC) dan Tenfovir, Lamivudin, Efavirens (TLE).

Ia mengatakan layanan pengobatan bagi ODHA sudah diterapkan di puskesmasnya sejak 2016 silam. Dalam rentang waktu tersebut, terdapat 187 lebih pasien ODHA yang ditanganinya.

Jumlah tersebut, katanya mengalami penurunan seiring banyaknya ODHA yang meninggal dunia akibat digerogoti virus mematikan tersebut.

Sebab, terdapat sembilan ODHA yang meninggal dunia, kemudian ada pula belasan yang dirujuk ke rumah sakit lain, ada yang tidak mengambil obat lagi dan sisanya yang masih aktif mengakses layanan pengobatan di puskesmasnya kini tinggal 87 orang.

“Tapi tren penularan HIV naik dari tahun ke tahun. Karena setiap VCT yang kami lakukan, ada dua orang yang positif HIV,” katanya.

Lebih jauh lagi, ia menjelaskan ODHA yang masih berobat di Puskesmas Halmahera kebanyakan dari kelompok homoseksual, beberapa ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV dan belasan wanita tuna susila. Mereka kebanyakan berasal dari luar Semarang.

“Obat ARV yang kami berikan kepada mereka dalam bentuk tablet. Itu yang dinamakan pil FDC. Biasanya diminum dua kali sehari atau sehari sekali tergantung resep pemakaiannya,” tuturnya.

Ia pun akan menyiasati bila nantinya stok ARV FDC dan TLE telah habis. Caranya, kata dia, dengan menginformasikan kepada setiap pasien ODHA untuk memberitahu komposisi resep FDC dan TLE yang masih bisa diminum dengan cara lain. Yaitu dengan memecah jumlah komponen obatnya menjadi obat tunggal.

“Nantinya akan tetap kami beritahu, ini lho komponen obat FDC dan TLE yang harus diminum. Kami kasih tahu juga kepada ODHA jenis obat yang terkandung dalam obat tunggalnya. Jadi, sama-sama ARV jenisnya FDC hanya saja kita berikan obat tunggalnya kalau nanti kehabisan stoknya,” tuturnya.

Dengan cara seperti itu, ia menjamin ketersediaan obat bagi ODHA akan tetap ada dengan segala situasi yang berkembang selama ini. Hal ini juga untuk menyiasati kabar dari Kemenkes yang memberitahukan kalau persediaan obat HIV akan habis di bulan Maret 2019. (far)

 

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.