Sering Pelototi Gadget, Anak Perkotaan Rentan Gangguan Penglihatan

Memandang gadget terlalu lama membuat mata secara otomatis jarang berkedip, sehingga membuat mata menjadi kering.

 

Direktur Marketing RS Mata JEC Candi Semarang, Dr. dr. Trilaksana Nugroho, MKes., FISCM, SpM (K). Foto: metrojateng.com/Ade Lukmono
Banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memandang layar gadget. Mereka melihat layar mini dalam jarak dekat secara terus menerus. 
SEMARANG – Perkembangan zaman di perkotaan membuat kebiasaan orang-orang, termasuk anak-anak berubah. Anak-anak yang dulunya bermain di lapangan bersama teman-temannya kini tergantikan dengan gawai atau gadget.

 

Tak jarang, banyak anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam memandang layar gadget, bahkan dalam jarak yang terlalu dekat dan membahayakan mata mereka.

 

Menurut Direktur Marketing RS Mata JEC Candi Semarang, Dr. dr. Trilaksana Nugroho, MKes., FISCM, SpM (K), memandang gadget terlalu lama membuat mata secara otomatis akan jarang berkedip sehingga membuat mata menjadi kering. Jika dipandang terlalu dekat, maka sistem autofokus pada mata akan terganggu dan mengakibatkan mata mudah lelah.

 

“Kami pernah melakukan penelitian, tingkat risiko gangguan mata miopia (mata minus) pada anak kota yang akrab dengan gadget dibandingkan anak-anak yang hidup di pedesaan. Angkanya sampai dengan tiga kali lipat anak kota berisiko terkena gangguan penglihatan,” ungkapnya.

 

Dia memaparkan, kebiasaan anak perkotaan dengan pedesaan sudah sangat signifikan. Di kota, anak selalu dicekoki dengan kegiatan pendidikan sejak pagi hingga dilanjutkan dengan les sampai malam. Hal ini membuat mata anak lelah karena terkonsentrasi pada kegiatan melihat jarak dekat, seperti membaca, melihat komputer dan sebagainya.

 

Hal sebaliknya terjadi di anak pedesaan. Waktu sekolah yang tidak sepadat anak kota, lingkungan yang luas dan kebiasaan bermain di luar ruangan membuat anak-anak pedesaan lebih rendah terkena gangguan penglihatan. Gangguan mata yang mungkin terjadi adalah karena trauma fisik, seperti terkena daun, debu, kerikil, pukulan dan benda lainnya.

 

Dia menyarankan, agar orang tua perkotaan lebih sigap melihat kebiasaan anaknya saat melakukan aktivitas. Jika anak menunjukkan gejala-gejala gangguan mata, seperti miopia, diharapkan segera dilakukan pemeriksaan medis.

 

Dia menyebutkan, beberapa tanda anak berisiko miopia yang terlihat adalah malas membaca jarak jauh, kebiasaan melihat terlalu dekat, mendekat jika melihat televisi, menyipitkan mata ketika melihat jarak jauh dan kebiasaan yang aneh lainnya.

 

Pemeriksaan dini, lanjut dia, sangat disarankan agar mata anak dapat segera ditolong. Trilaksana mengatakan, usia perkembangan mata pada anak adalah mulai lahir hingga usia enam atau delapan tahun. Apabila pada usia emas tersebut orang tua abai, mata anak sudah tidak bisa dikoreksi lagi menggunakan kacamata jika minusnya sudah tinggi.

 

“Kita harus paham bahwa kesehatan mata anak adalah hak, bukan nasib. Jika orang tuanya minus, maka risiko anak juga minus juga ada. Perlu diwaspadai,” tambahnya.

 

Dia menambahkan, sebanyak 80 persen kasus mata bisa direhabilitasi. Sangat disayangkan apabila orang terdekat yang mengalami gangguan penglihatan tidak tertangani, apalagi anak-anak yang masih memiliki masa depan panjang. (ade)

 

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.