Seni Barongan Khas Blora yang Bikin Kagum Bule Belanda

Anjangsana Kebudayaan Blora

Kabupaten Blora menjadi posisi yang penting sekali di dalam konteks budaya gamelan

BLORA – Sejumlah praktisi kebudayaan dan seniman dari berbagai negara mengikuti Anjangsana Kebudayaan di Kabupaten Blora, Rabu (15/8/2018). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kemanterian Pendidikan dan Kebudayaan ini merupakan site performance dari International Gamelan Festival (IGF) 2018 dan melibatkan sekitar 70 orang peserta.

Tari Barongan menyambut peserta Anjangsana Kebudayaan di Kabupaten Blora, Rabu (15/8/2018). Foto: metrojateng.com/efendi

Kunjungan pertama ialah salah satu sentra pengeboran minyak tradisional tertua di Indonesia yang terletak di Kecamatan Cepu. Kedatangan mereka disambut dengan tarian barong yang dimainkan anak-anak warga setempat.

Sembari menyaksikan tarian khas Blora tersebut, mereka disuguhi sejumlah makanan krowot seperti kacang rebus, pisang rebus, jagung rebus dan beberapa lainnya yang merupakan hasil bumi.

“Menarik sekali ya pertunjukan ini, karena saya juga baru kali ini melihatnya. Apalagi, yang memainkan alat musik gamelan itu anak-anak, jadi saya senang sekali. Saya sebelumnya tahu, Barongan itu apa, namun baru kali ini menyaksikan secara langsung di sini, dan ternyata bagus sekali,” ujar salah seorang peserta asal Amsterdam, Belanda, Elsje Plantema.

Elsje juga mengatakan, ia bersama rekannya tertarik untuk mempelajari seni Barongan tersebut. Bahkan mereka juga berkeinginan untuk mempelajarinya di perkumpulan gamelan yang ia gagas.

“Menarik sekali untuk dipelajari, meski begitu saya juga akan mencoba memberikan pelajaran seni Barongan kepada teman-teman di Amsterdam. Namun, karena saat ini dasarnya saya belum ada, dan masih akan terus belajar, nanti akan saya bawa ke Amsterdam seni ini untuk dipelajari,” ujar wanita yang merupakan salah satu penggagas kumpulan gamelan Widosari yang berada di Belanda.

Penambangan Minyak

Usai menikmati hidangan hasil bumi, para peserta diajak untuk menyaksikan proses penambangan minyak bumi. Mereka tampak terpukau melihat proses pengambilan minyak bumi yang masih menggunakan cara tradisional tersebut. Tak sedikit dari mereka yang mengabadikan momen prosesi pengambilan minyak dari lubang sedalam kurang lebih 400 meter itu.

Pengeboran minyak secara tradisional di Cepu. Foto: metrojateng.com/efendi

Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Heritage Loko Tour Ngelo, Cepu. Di sana mereka menyaksikan tarian khas Blora yang juga diiringi dengan lantunan musik gamelan. Bernama Tari Tayub, sejumlah peserta turut menari bersama para penari.

Kepala Bagian Umum dan Kerjasama Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Ahmad Mahendra mengatakan bahwa anjangsana kebudayaan ini merupakan bagian dari IGF 2018. Selain Tarian Barong ada berbagai kesenian lain yang menggunakan gamelan sebagai musik pengiring. Menurutnya hal tersebut sangat penting untuk dipelajari dan dilestarikan.

Site performance ini selain gamelan, ada juga pewayangan yang juga menggunakan gamelan bersama Ki Manteb, kemudian ada budaya Ketek Ogleng. Dan kini di Blora kita menyaksikan seni budaya Barongan dan Tayub, yang juga merupakan senu budaya menggunakan alat musik gamelan,” ujarnya.

Potensi Blora

Selain itu, Kabupaten Blora merupakan daerah penyuplai kesenian budaya Tayub. Termasuk para penari perempuan atau yang disebut Ledek, pun berasal dari Blora, yang saat ini masih banyak menari di Keraton Solo. “Dengan begitu, Kabupaten Blora menjadi posisi yang penting sekali di dalam konteks budaya gamelan. Oleh karena itu, Kabupaten Blora sangat perlu dikunjungi,” imbuh Mahendra.

Peserta Anjangsana Kebudayaan menari bersama para penari Tayub. Foto: meteojateng.com/efendi

Wakil Bupati Blora, Arief Rohman mengatakan saat ini pihaknya juga tengah mengembangkan potensi wisata budaya dan wisata alam di wilayahnya. Hal tersebut didukung dengan adanya ratusan sumur tua penghasil minyak di tengah hutan jati. Dimana sumur-sumur tersebut sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

“Sebagian wilayah Blora ini adalah hutan jati, dan Blora juga merupakan salah satu penghasil minyak di Indonesia. Ekonomi warga Blora juga salah satu penopangnya minyak, maka ketika ekonomi bagus ini akan berkaitan dengan kebudayaan dan budaya akan jalan. Kalau ekonominya bagus kan juga akan mendukung kesenian seperti tarian tayub, tarian barong juga,” tukas Arief.

Sementara itu, Kabupaten Blora merupakan destinasi ketiga dalam roadshow International Gamelan Festival (IGF) 2018. Sebelumnya para peserta telah berkunjung di Kabupaten Wonogiri, dan Kabupaten Karanganyar. Rencananya pada Kamis (16/8/2018) mereka juga akan berkunjung di sejumlah lokasi di Kabupaten Boyolali. (efendi)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.