Sempat Tertutup Longsor, Jalur Magelang-Wonosobo Kembali Dibuka

Selain tanah longsor di Kajoran, pada Selasa (4/12) kemarin juga terjadi bencana di beberapa titik.

MAGELANG – Setelah sempat tertutup akibat tanah longsor, akses jalan dari Salaman Kabupaten Magelang menuju Kabupaten Wonosobo sudah bisa dilewati kendaraan. Pada Selasa (4/12) malam sekitar pukul 18.30, jalan di Dusun Tunggangan Desa Wuwuharjo Kecamatan Kajoran tertimpa longsoran tanah.

Tanah longsor yang sempat menutup akses jalan dari Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang menuju Kabupaten Wonosobo. Foto: metrojateng.com/dok BPBD Kabupaten Magelang

“Akibat kejadian ini, akses jalan Salaman-Wonosobo Km 13 atau ruas Jalan Wuwuharjo tertutup,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Magelang, Edi Susanto, Rabu (5/12/2018).

Edi menjelaskan, sebelum longsor, di wilayah Kajoran diguyur hujan dengan intensitas sedang sampai lebat sejak pukul 13.00 sampai 17.00. Akibatnya, tebing setinggi 15 meter dengan lebar 8 meter longsor. Ketebalan longsor mencapai 2 meter sepanjang 10 meter.

“Saat itu akses jalan masih bisa dilalui kendaraan roda dua, namun harus sangat hati-hati,” kata Edi.

Agar akses jalan bisa terbuka kembali, warga dibantu petugas BPBD, relawan, TNI, Polri melakukan gotong royong membersihkan longsoran. “Sekarang sudah bisa dilalui lagi namun tetap harus hati-hati karena di wilayah ini masih berpotensi longsor susulan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” katanya.

Sementara itu, selain tanah longsor di Kajoran, pada Selasa (4/12) kemarin juga terjadi bencana di beberapa titik.

Antara lain pohon tumbang di Desa Kalitan Blondo, Kecamatan Mungkid, tanah longsor di Kalipucung Kulon Desa Kalirejo. Tanah longsor juga terjadi di Kalipucung Wetan, di Dusun Kobar Desa Kalirejo, dan di Dusun Jombor Desa Giripurno Borobudur.

“Yang di Giripurno sempat menutup akses jalan antara Desa Giripurno-Ngadiharjo,” terang Edi.

Edi meminta kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan di musim hujan ini. BPBD juga telah memasang early warning system (EWS) di empat titik masing-masing di Kecamatan Salaman, Bandongan dan Borobudur.

“EWS itu cukup membantu memberikan informasi pada masyarakat ketika alat itu bergerak,” katanya.

Ia menjelaskan, pada musim hujan ini bencana geologi yang paling tinggi dibanding bencana lainnya. BPBD juga selalu siaga baik secara personal maupun peralatan.(MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.