Sektor Pariwisata Moroket Masuk Tiga Mata Pajak Terbesar

Sektor pariwisata kini meroket masuk tiga mata pajak terbesar di Kota Semarang.

 

Wali Kota Hendrar Prihadi memberikan penghargaan kepada wajib pajak berpresetasi bertempat di Hotel Grand Arkenso, Kota Semarang, Kamis (14/3/2019). (istimewa)

 

SEMARANG – Realisasi pajak sektor pariwisata di Kota Semarang saat ini berhasil meningkat drastis, meroket masuk menjadi tiga mata pajak terbesar di Kota Semarang.

Sebelumnya pada tahun 2011, tercatat hanya sebesar Rp 75,9 miliar yang dihasilkan Kota Semarang dari pajak hotel, restoran, dan tempat hiburan. Angka itu kemudian meningkat drastis lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2018, yaitu menjadi sebesar Rp 258,8 miliar.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menceritakan, sejak dirinya memimpin Kota Semarang tahun 2011, tiga mata pajak terbesar Kota Semarang selalu didominasi oleh PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), serta PPJU (Pajak Penerangan Jalan Umum).

‘’Ini menjadi representasi masih banyaknya sektor belum tergarap di Kota Semarang, yang kemudian bila dapat di dorong pengembangan sektornya, maka akan mampu semakin meningkatkan pembangunan’’, jelasnya, saat memberikan penghargaan kepada 26 wajib pajak dari sektor kepariwisataan di Kota Semarang, di Hotel Grand Arkenso, Semarang, Kamis (14/3/2019).

Pihaknya kemudian menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor strategis untuk dikembangkan, guna meningkatkan pembangunan di Kota Semarang. Karena itu, pada beberapa tahun terakhir pihaknya fokus untuk menggarap sektor pariwisata, dengan merevitalisasi sejumlah objek serta kawasan wisata di Kota Semarang yang sebelumnya belum optimal di bangun.

Revitalisasi Kota Lama, Revitalisasi Hutan Wisata Tinjomoyo, inisiasi ratusan Kampung Tematik, hingga revitalisasi Banjir Kanal Barat melalui pembangunan Semarang Bridge Fountain menjadi sejumlah pembangunan yang dilakukannya.

Wali kota yang akrab disapa Hendi mengatakan, kini pajak dari sektor pariwisata di Kota Semarang telah menggeser dominasi pajak penerangan jalan umum yang pada tahun 2018 terkumpul sebanyak Rp 222,5 miliar.

Dengan begitu maka postur realisasi pajak di Kota Semarang di tahun 2018 berubah menjadi lebih produktif. Di mana pajak sektor produktif dari aktivitas kepariwisataan telah menjadi salah satu dana pembangunan terbesar Kota Semarang.

’’Ini adalah tren positif bagi Kota Semarang, PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kota Semarang sebelumnya sudah tembus Rp 1 triliun di 2013, dan sekarang dalam waktu lima tahun di 2018 sudah bisa tembus Rp 2,1 triliun,’’ jelas Hendi.

Melihat sejumlah capaian positif yang dicatatkan di Kota Semarang tersebut, Hendi memberikan penghargaan kepada 26 wajib pajak dari sektor kepariwisataan di Kota Semarang, Kamis (14/3).

Bertempat di Hotel Grand Arkenso, Kota Semarang, penerima penghargaan wajib pajak berpresetasi tersebut atara lain Hotel Gumaya Kota Semarang, Hotel Santika Premiere, Hotel Ibis, Adi’s Culinary, XXI DP Mall, Kampung Laut, dan Pantai Marina. (duh)

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.