Sebelum Ditangkap di Semarang, Sindikat Cyber Crime ini Beraksi di Jepang

Buronan Interpol

Sebanyak 40 warga negara asing (WNA) asal Taiwan dan Tiongkok yang diduga sindikat cyber crime international itu hingga saat masih dilakukan pemeriksaan oleh petugas Imigrasi.

SEMARANG – Sebelas dari 40 WNA yang ditangkap petugas imigrasi merupakan buronan Interpol. Sebelas orang yang diketahui berpaspor Taiwan tersebut sudah pantau pergerakannya sejak tahun 2018 lalu. Sebelum ditangkap di sebuah rumah mewah di Puri Anjasmoro Blok M2 nomor 11, Semarang Barat, belasan WNA tersebut juga melancarkan aksinya di Jepang.

 

40 WNA asal Taiwan dan Tiongkok beserta barang bukti yang diamankan petugas Imigrasi.(metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

 

Chumin Kang, Police Attache Taiwan, mengatakan, belasan warga Taiwan tersebut awalnya terdeteksi melancarkan aksi dari Jepang sekitar bulan Agustus 2018 lalu. Selanjutnya ia mendapat informasi dari Cyber Crime Mabes Polri terkait ada penangkapan warga Taiwan yang diduga melakukan tindak pidana cyber crime berupa penipuan dan pemerasan.

“Kemarin kami mendapat informasi tentang kasus ini. Mereka sudah beraksi sejak tahun lalu, bulan Agustus 2018 di Jepang. Kemudian mereka berpindah ke Indonesia hingga akhirnya ditangkap di sini (Indonesia),” katanya saat ditemui di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang, Senin (22/4/2019).

Para WNA tersebut awal masuk ke Indonesia melalui Bali. Setelah itu mereka berpindah-pindah tempat dan terakhir menetap di sebuah rumah mewah Jalan Puri Anjasmoro Blok M2 nomor 11, Semarang Barat. Dari dalam rumah tersebut puluhan WNA dari Taiwan dan Tiongkok itu kembali melancarkan aksi penipuan dan pemerasan dengan sasaran korban di Taiwan dan Tiongkok.

 

Petugas Imigrasi dan Ditreskrimsus Polda Jateng menunjukkan barang bukti. (metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

 

Kadiv Imigrasi Kanwil Kemenkumham Jateng, Ramli HS, mengatakan penangkapan 40 WNA asal Taiwan dan Tiongkok berawal dari kecurigaan banyaknya WNA usia muda dari dua negara tersebut yang datang ke Semarang. Setelah itu dilakukan penelusuran hingga didapati puluhan WNA yang tinggal di sebuah rumah nomor 11 Puri Anjasmoro Blok M2, Semarang Barat.

“Mereka ini orang-orang yang dicari Polisi Taiwan. Ada 12 warga Taiwan, 11 di antaranya bisa menunjukkan paspor tetapi surat dari perwakilan Taiwan di Jakarta mengatakan paspor 11 orang ini dinyatakan tidak berlaku lagi,” katanya.

Terkait pengungkapan ini, Ramli mengatakan dari segi dokumen imigrasi puluhan WNA ini melakukan pelanggaran dokumen terkait paspor dan izin tinggal. Sementara untuk dugaan tindak pidana penipuan dan pemerasan, Kanwil Kemenkumham Jateng telah berkoordinasi dengan Dit Reskrimsus Polda Jateng.

Direktur Reskrimsus Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Suhartiyono, menambahkan, pemeriksaan masih dilakukan terhadap 40 WNA tersebut. Proses pemeriksaan sedikit mengalami kendala yakni faktor bahasa dan kurangnya penerjemah karena 40 WNA tersebut tidak bisa berbahasa Inggris.

“Pemeriksaan di sini kami ambil keterangan dari mereka semua. Namun ada keterbatasan translator, kami butuh keterangan mereka untuk mendalami barang bukti yang ada. Tersangka sendiri tidak akan dilakukan penyidikan di sini karena korban di Tiongkok dan Taiwan,” ungkapnya.

 

40 WNA asal Taiwan dan Tiongkok saat digelandang ke ruang tahanan. (metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

 

Saat ini 40 WNA asal Taiwan dan Tiongkok masih berada di Rudenim Semarang beserta barang bukti. Pasal yang disangkakan adalah Pasal 28 ayat (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE berikut perubahannya pada Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019. Ancaman hukumannya maksimal 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. (aka)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.