Sate Serepeh, Nikmat Meski Tak Pakai Saus Kacang

sate serepeh khas Rembang
?


BICARA Kabupaten Rembang tak melulu soal RA Kartini atau Kampung Lasem. Kabupaten di timur Pantura Jawa Tengah itu juga punya banyak kisah soal makanan tradisional. Satu makanan yang tak boleh terlewatkan adalah sate serepeh.

Sate serepeh punya citarasa unik. Bila biasanya sate bertabur bumbu kacang untuk menggoyang lidah, tapi apa yang ada pada sate serepeh justru anti mainstrem. Sate serepeh hanya memakai bumbu dari gula Jawa yang ditumbuk halus. Lalu, dengan olahan sedemikian rupa bumbu gula Jawa itu disiramkan diatas tumpukan sate.

“Mengaduk bumbunya bisa sampai dua jam lebih. Apalagi kita enggak  pakai kacang. Kita pakai gula. Inilah citarasa yang sangat khas dari sate serepeh dari Rembang,” kata Mei Liem Gunawan kepada wartawan di Mall Sri Ratu, Jalan Pemuda Semarang, Senin (27/3).

Mei Liem hanyalah segelintir pedagang sate serepeh asal Rembang yang masih eksis. Kini hanya ada empat pedagang sate serepeh yang masih bertahan ditengah gempuran ragam menu modern.

Perempuan 70 tahun ini sudah berjualan sate sejak 33 tahun silam. Ketika pelanggannya berkurang, ia kini hanya mampu melayani pesanan dari luar kota.

Ia sengaja datang jauh-jauh ke Semarang untuk memperkenalkan lagi seperti apa nikmatnya sate hasil racikannya. Dagangannya akhirnya tampil jadi salah satu menu unik dalam festival makanan bertajuk Brothefood Festival di Mall Sri Ratu.

Ia saban minggu menerima banyak pesanan dari pelanggannya di Semarang. Sekali pesan, katanya bisa sampai 2.000 tusuk. Jika di Rembang ia jual Rp 20 ribu per porsi. Maka di lokasi festival Brotherfood harganya dibanderol Rp 25 ribu.

“Sate serepeh paling cocok dimakan bareng nasi tahu. Dengan suasana pagi yang guyup, satenya sangat pas dimakan pagi hari bareng keluarga. Memang sangat sedap,” terangnya sembari menambahkan bahwa, dirinya sering kebanjiran pesanan saat Hari Raya Idul Fitri atau saat liburan panjang tiba.

Firdaus Adinegoro, Ketua Komunitas Kuliner yang menggagas Brotherfood Festival mengaku, sate serepeh bisa dibilang agak susah dicari di tempat-tempat umum. Makanya, saat menggelar festival mulai hari ini sampai 2 April nanti, ia mengusung konsep yang memadukan kuliner yang hampir punah dengan menu kekinian.

“Biar dikenal orang lagi. Ada 70 jenis menu yang dijual di sini dan dijual hanya Rp 10 ribu-Rp 30 ribu. Jumlah standnya ada 55 buah,” kata Firdaus.

Selain kuliner Rembang, ada pula pedagang-pedagang lainnya yang tampil. Mereka menjual soto Banjar, sup binte buluhata khas Gorontalo hingga ragam menu bakso. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

8 + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.