Sambut Mudik, Jalan Tol Minim Rest Area Jadi Ancaman Kecelakaan

Potensi kecelakaan lalu lintas mengancam pengguna jalan tol jika tidak berhati-hati.

Ilustrasi. Antrean kendaraan di pintu Tol Manyaran, pada musim mudik Lebaran 2018 lalu. Foto: efendi/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Kurang dari tiga bulan, musim mudik lebaran 2019 akan tiba. Mudik lebaran tahun ini dinilai akan lebih nyaman lantaran jalan Tol Trans Jawa sudah terhubung. Pada musim mudik sebelumnya, kemacetan lalu lintas menghantui di gerbang tol dan pantura.

Pakar Transportasi dari Universitas Katholik Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan, dengan tarif tiket pesawat udara masih mahal, jalur darat diprediksi menjadi pilihan para pemudik, terutama pengguna kendaraan pribadi di Jawa dan sebagian Sumatera.

“Tol layang Jakarta-Cikampek belum dapat digunakan, sekalipun fungsional dan tidak perlu dipaksa beroperasi. Pertimbangan keselamatan harus diperhitungkan. Ketersendatan lalu lintas masih terjadi di ruas tol Jakarta-Cikampek akibat belum selesai tuntas Tol Layang Jakarta-Cikampek,” ungkapnya, Kamis (14/3/2019).

Dia menambahkan, truk barang tidak perlu dilarang asalkan kecepatannya minimal 60 km per jam, sesuai mengacu pada PM 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Batas Kecepatan di Jalan.

Dalam tiga tahun terakhir ini ketersendatan lalu lintas saat mudik terjadi gerbang tol, karena pembangunan tol belum selesai. Tetapi tahun ini akan terjadi ketersendatan di ruas tol, terutama di dekat rest area. Rest area yang disediakan di sepanjang jalan tol tidak akan sanggup menampung semua pengguna tol untuk beristirahat.

Pengguna tol yang melakukan perjalanan panjang, setidaknya dua hingga tiga jam perjalanan menghendaki beristirahat. Oleh karena itu, penambahan rest area menjadi penting dan diperlukan.

“Namun jika ditambah di sepanjang tol tersebut kurang efektif karena ramai hanya pada saat musim mudik,” imbuhnya.

Djoko menyarankan, di sekitar setiap gerbang tol yang bukan lahan milik operator tol, disiapkan lahan untuk rest area. Pemerintah Daerah setempat dapat menyiapkan itu dan bekerja sama dengan operator jalan tol untuk dibuatkan rambu petunjuk di sepanjang tentang keberadaan rest area di luar tol.

Para pebisnis lokal yang mulai terpuruk akibat dampak tol perlu diberi peluang buka usaha di rest area dekat gerbang tol. Mulai sekarang harus sudah disiapkan Pemda, supaya tidak terlambat.

Potensi kecelakaan lalu lintas juga mengancam pengguna jalan tol jika tidak berhati-hati. Data dari PT jasa Marga (Maret 2019), beberapa ruas tol yang perlu diwaspadai, seperti km 365 – km 375 Tol Batang-Semarang, km 475 – km 485 Tol Semarang-Solo, km 715 – km 725 Tol Surabaya-Mojokerto, km 795 – km 805 Tol Gempol-Pandaan.

Perlu pemasangan rumble strip sebelum rest area. Setidaknya pada jarak 1,5 km sebelum rest area untuk mengingatkan pengguna jalan tol agar mengurangi laju kendaraannya. Terlebih lagi, jalur pantura akan dipenuhi pemudik roda dua dan sebagian roda empat.

Penyediaan angkutan mudik gratis tidak hanya disediakan dari Jakarta, akan tetapi juga bisa disediakan penambahan sejumlah bus di Pelabuhan Tanjung Emas dan Tanjung Perak. Angkutan yang disediakan nantinya menuju ke sejumlah kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai sekarang harus mengantisipasi itu. Jangan sampai pemudik mendapatkan angkutan pelat hitam dengan tarif tak terhingga. Kemacetan lalu lintas selama mudik akan beralih ke jalan-jalan di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” pungkasnya. (ade)

 

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.