Rupiah Melemah, Tempe pun Ikut ‘Loyo’

Kenaikan harga kedelai sudah mulai terjadi sejak tiga bulan terakhir

SLAWI – Harga bahan baku pembuat tahu tempe di Tegal, Jawa Tengah mulai merangkak naik, menyusul melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kenaikan harga bahan baku itu membuat perajin tempe terpaksa mengurangi ukuran tempe yang dibuat.

Perajin tempe asal Tegal membeli kedelai yang saat ini merangkak naik akibat membengkaknya dolar. Foto: metrojateng.com/adithya

Salah satu perajin tempe di Desa Mejasem, Kecamatan ‎Kramat, Malem (35) mengungkapkan, harga bahan baku kedelai naik Rp 1.000 per kilogramnya.

“Harga naik Rp 1.000. Tadinya harganya Rp 6.500,” ungkapnya, Kamis (6/9/2018).

Menurut Malem, ‎kenaikan harga akibat naiknya harga dolar itu sangat berdampak pada usaha pembuatan tempe yang dijalankannya. Ia pun terpaksa memperkecil ukuran tempe yang dijual untuk menyiasatinya.

“Berat ya kalau harga kedelai naik, karena jualnya susah. Akhirnya ukuran tempe saya perkecil. Kalau tidak begitu ya tidak dapat untung,” tuturnya.

Salah seorang pemilik agen penjualan kedelai di Kota Tegal Ruli membenarkan kenaikan harga kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat. ‎Kenaikan tersebut sudah mulai terjadi sejak tiga bulan terakhir secara bertahap. Ditambah lagi saat ini harga dolar sudah hampir menyentuh Rp 15.000.

“Harga naik, ikut dolar yang naik karena (kedelai) ini barang impor. Harga standarnya di bawah Rp 7.000 harganya. Tapi karena dolar naik ya ikut naik. Kalau dihitung-hitung kenaikannya sudah Rp 1.000,” ujarnya.

‎Ruli juga mengakui kenaikan tersebut berpengaruh besar terhadap para perajin tempe dan tahu yang biasa membeli bahan baku di tokonya. Mereka tidak mengurangi pembelian bahan baku, namun harus menyiasati agar tetap bisa memperoleh keuntungan. (MJ-10)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.