Rumah Pancasila Bebaskan Tersangka Pencurian dan Kekerasan di Polsek Mijen

Pemberian penangguhan penahanan tersebut sesuai dengan kebijakan restorative justice (keadilan restoratif) yang didengungkan oleh Kapolri dalam memberi keadilan kepada rakyat kecil.

SEMARANG – Setelah lebih kurang 80 hari ditahan di Mapolsek Mijen, Widayat warga Boja, Kabupaten Kendal, akhirnya dibebaskan dari sel tahanan pada Kamis (25/7/2019). Hal itu setelah permohonan penangguhan penahanan yang diajukan oleh tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum dikabulkan oleh penyidik Polsek Mijen. Widayat masih diwajibkan lapor dua hari dalam sepekan hingga proses hukum atau pemberkasan di Polsek Mijen selesai.

Advokad, Yosep Parera bersama tersangka, Widayat dan keluarganya saat memberikan keterangan di Mapolsek Mijen. (metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

“Pekan lalu kami mengirim surat permohonan penangguhan penahanan ke kepolisian. Dalam waktu yang singkat akhirnya polisi mengabulkan permohonan penangguhan penahanan dan hari ini bisa bebas,” kata Yosep Parera, pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, saat memberikan keterangan di Mapolsek Mijen, Kamis (25/7/2019) malam.

Pemberian penangguhan penahanan tersebut sesuai dengan kebijakan restorative justice (keadilan restoratif) yang didengungkan oleh Kapolri dalam memberi keadilan kepada rakyat kecil. Pemberian penangguhan tersebut juga sebagai percontohan bagi penegakan hukum di Indonesia yang juga mempertimbangkan supremasi nilai-nilai Pancasila.

“Kami berterima kasih dengan Kapolrestabes Semarang yang dengan cepat merespons dan mengabulkan permohonan. Ini menjadi percontohan bagi penegakan hukum di Indonesia,” ungkapnya.

Widayat sebelumnya ditangkap dan ditahan di Mapolsek Mijen terkait dugaan tindak pidana pencurian dengan kekerasan. Dalam perkembangannya sudah ada perdamaian antara pelapor AW dan Widayat. Bahkan barang yang sempat diambil oleh Widayat sudah dikembalikan semua.

“Seluruh kerugian sudah dikembalikan, sudah ada juga kesepakatan damai dengan korbannya. Perkara ini juga tidak tepat jika harus diproses hukum lebih lanjut karena perbuatan Widayat ini dilakukan dalam rangka menjaga ketenteraman keluarganya. Sesuai dengan Pasal 49 KUHAP, Widayat tidak bisa dipidana,” terang Yosep.

Setelah mendapatkan penangguhan penahanan, tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum akan menemui Kepala Kejaksaan Negeri Semarang untuk membahas kelanjutan perkara tersebut. “Kami akan minta kejaksaan untuk memberi petunjuk kepada polisi agar menghentikan perkara ini,” tegasnya.

Kapolsek Mijen, Kompol Budi Abadi, mengatakan pemberian penangguhan penahanan itu dikabulkan lantaran ada jaminan dari orangtuanya. Selain itu proses hukum terhadap Widayat saat ini masih berlanjut.

“Ada jaminan dari orangtua kalau yang bersangkutan tidak akan melarikan diri. Widayat kami minta wajib lapor dua kali dalam sepekan, hari Senin dan Kamis. Untuk proses hukumnya tetap berlanjut,” katanya. (aka)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.