Ratusan Pekerja Asing Menyerbu Tiga Proyek PLTU

Ratusan pekerja asing yang menyerbu PLTU tersebut dipekerjakan sejak awal proyek tersebut berdiri di Jawa Tengah.

Wika Bintang
Foto: dok metrosemarang.com

SEMARANG – Maraknya investor asing yang menanamkan modalnya di Jawa Tengah berimbas terhadap kebutuhan tenaga kerja asing ke sejumlah sektor industri. Bahkan, data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah saat ini sudah ada ratusan tenaga kerja asing yang dipekerjakan di tiga proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

“Di PLTU Batang sudah ada kurang lebih 100 pekerja dari Jepang, kemudian seratusan pekerja dari China telah ditempatkan di PLTU Cilacap dan terakhir saat saya sidak ke PLTU Tanjung Jati B Jepara bersama dirjen Tenaga Kerja Kemenaker belum lama ini, saya menemukan sendiri ada 97 pekerja asing dari lima negara yang bekerja di sana. Salah satunya dari Nigeria, Jepang dan China,” ujar Kepala Disnakertrans Jawa Tengah, Wika Bintang, ketika dikontak metrojateng.com, Sabtu siang (2/3/2019).

Ia mengatakan ratusan pekerja asing yang membanjiri PLTU tersebut dipekerjakan sejak awal proyek itu berdiri di Jawa Tengah. Ia mengklaim para pekerja asing ditempatkan di bidang teknik pengoperasian pembangkit listrik.

Mereka, kata Wika, berkerja sebagai teknisi yang bertugas merakit mesin-mesin kelistrikan dengan masa kerja maksimal tiga tahun.

“Kita batasi izin kerja mereka selama tiga tahun. Karena proyek PLTU itu kan modalnya juga masuk dari investasi asing, jadinya ada tenaga kerja dari negara-negara lain yang ditugaskan di sana sampai proses tukar ilmu dengan pekerja lokal bisa berjalan maksimal. Setelah itu, jika kontrak kerjanya berakhir, tentunya mereka harus pulang ke negara asalnya,” ungkapnya.

Wika menjelaskan tidak bisa serta merta mengizinkan pekerja asing masuk ke wilayahnya begitu saja. Proses izin penempatan kerja harus dilakukan secara ketat.

Lebih jauh lagi, ia menegaskan rutin memantau ketat penempatan pekerja asing di sektor-sektor industri yang ada di kabupaten/kota.

Sejak Desember 2018, dari data Disnaker, jumlah pekerja asing yang diizinkan masuk ke Jawa Tengah mencapai 14.736 jiwa. Mereka berasal dari sepuluh negara. Paling banyak berasal dari China berjumlah 4.882 orang, berturut-turut dari Jepang 1.769 orang, dari Korsel 1.531 orang, dari India 1.425 orang.

Selanjutnya dari Amerika Serikat 573 orang, dari Malaysia 563 orang, dari Filipina 525 orang, Inggris 291 orang, Australia 290 orang, Singapura 266 orang dan lain lain ada sebanyak 2.621 orang.

Para pekerja asing menempati posisi sebagai komisaris pabrik, teknisi, direktur dan manajer.

Untuk sektor industri yang mempekerjakan tenaga asing paling banyak dari jasa konstruksi. Jumlahnya 3.008 orang.

Wika beralasan tak semua pekerja asing yang mendapat izin dari pihaknya. Dari jumlah 14.736 orang itu, mayoritas mendapat izin kerja lewat Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker). Sedangkan sisanya lewat perizinan yang ia teken.

“Yang lewat Kemenaker itu kebanyakan pekerja asing lintas provinsi. Artinya mereka bisa saja ditempatkan di Jabar. Bisa juga lain waktu dipindahkan ke Jateng. Kalau yang dari kita tangani hanya sekitar seratusan orang saja kok,” cetusnya.

Ia akan menjatuhkan sanksi berat bagi pekerja asing yang masuk ke wilayahnya tanpa izin alias ilegal. Hukumannya berupa deportasi ke negara asalnya. “Kami minta warga aktif melaporkan jika ada dugaan pelanggaran terkait masuknya pekerja asing. Sebab, kalau ada pekerja asing yang terbukti ilegal, akan kami deportasi. Itu hukuman setimpal buat mereka,” pungkasnya. (far)

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.