PWI: Masih Banyak Wartawan Tak Profesional

Gayeng Beberangen dengan tema “Sosialisasi UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik Guan Memantapkan Peran Humas Polri yang Promoter” di Aula Polres Magelang Kota, Rabu (15/11). (foto: metrojateng.com/ch kurniawati)

 

 

MAGELANG – Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng, Sri Mulyadi menyebut masih ada wartawan yang berlaku buruk. Mereka sering mendatangi pejabat di daerah, seperti Kapolsek, Kades, camat dan menjanjikan bisa menaikkan citra dengan memberitakan pejabat tersebut.

“Namun kalau permintaan ditolak, maka wartawan itu tidak segan memberitakan sesuatu yang buruk,” kata Sri Mulyadi dalam Gayeng Bebarengan bertema “Sosialisasi UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik Guna Memantapkan Peran Humas Polri yang Promoter” di Aula Polres Magelang Kota, Rabu (15/11).

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Humas Polres Magelang Kota dan PWI Kota Magelang. Hadir dalam acara ini, Kapolres Magelang Kota AKBP Krisnanto Yoga Darmawan, Wakapolresta Kompol Prayudha Widiyatmoko, para perwira , Babinkamtibmas dan perempuan Bhayangkari.

Menurut Sri Mulyadi, wartawan yang demikian bukan wartawan profesional, karena tidak menjalankan profesinya secara benar. Bahkan kemungkinan besar, orang itu hanya mengaku sebagai wartawan dan tidak memiliki media. Gayeng Bebarengan merupakan kerjasama antara Polres Magelang Kota dengan PWI setempat, sebagai upaya saling memahami dan menghormati profesi masing-masing.

“Antara kerja wartawan/jurnalis dan kepolisian tidak akan terjadi friksi atau perpecahan jika keduanya bekerja secara profesional. Pasalnya, kedua profesi ini masing-masing memiliki kode etik atau norma profesi yang tertuang dalam undang-undang. Salah satu indikator kerja profesional adalah menaati kode etik,” kata Sri Mulyadi.

Menurutnya, sangat penting ada sinergi antara wartawan dan Polri. Ada saatnya wartawan membutuhkan informasi yang bersumber dari Polri, begitu juga sebaliknya Polri membutuhkan wartawan untuk menyampaikan informasi yang penting diketahui publik.

Dalam menjalankan pekerjaannya, wartawan dilindungi oleh undang-undang, yakni UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Di dalam UU Pers itu, diamanahkan adanya Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang harus dipatuhi oleh setiap wartawan dalam bertugas. Munculnya UU Pers, lanjut Mulyadi, salah satunya karena masih sering muncul keluhan masyarakat atau narasumber tentang perilaku wartawan.

Seperti beritikad buruk, memberitkan secara tidak berimbang dan tendensius, bersikap superior, tak memenuhi hak jawab dan hak koreksi, serta melanggar azas praduga tak bersalah.

Kapolres  Kristanto menyatakan, topik UU Pers dan KEJ ini penting diketahui oleh para anggota Polri, khususnya di lingkungan Polres Magelang Kota. Menurutnya, acara ini bisa menambah pengetahuan tentang dunia pers. “Kita jadi lebih mengerti tentang UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik,” tuturnya.

Dikatakannya, UU Pers dan KEJ tidak hanya untuk wartawan, tapi juga perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat, termasuk jajaran Polri. Apalagi tugas Polri dan wartawan seringkali beriringan di lapangan. (MJ-24).

 

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 50 = 52

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.