Puluhan Rumah Warga Tambakrejo Dibongkar Paksa

Puluhan mahasiswa dan warga berusaha melawan pembongkaran paksa tersebut. Namun mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa mengutuk dan meneriakkan penolakan pembongkaran paksa atau penggusuran.

SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akhirnya melaksanakan pembongkaran terhadap permukiman warga di bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), tepatnya di Kampung Tambakrejo RT 05/RW 16, Kelurahan Tanjungmas, Kota Semarang, Kamis (9/5/2019). Belasan rumah sudah hancur dibongkar menggunakan sebuah alat berat.

Ratusan petugas Satpol PP Kota Semarang dikawal oleh kepolisian dan TNI, akhirnya melakukan eksekusi pembongkaran paksa rumah warga di Kampung Tambakrejo RT 05/RW 16, Kelurahan Tanjungmas, Kota Semarang, Kamis (9/5/2019). (metrojateng.com)

Pembongkaran oleh ratusan petugas Satpol PP Kota Semarang ini dikawal oleh Kepolisian dan TNI. Puluhan mahasiswa dan warga yang berusaha melawan pembongkaran tidak mampu berbuat apa-apa. Hanya bisa mengutuk dan meneriakkan penolakan pembongkaran paksa atau penggusuran.

Sementara barang-barang warga yang rumahnya sudah dihancurkan, juga terlihat terpaksa dikeluarkan dan berserakan di luar. Beberapa warga serta anak-anak yang baru pulang dari sekolah juga terlihat menangis, karena mendapati rumahnya ternyata sudah hancur. Hingga saat ini proses penggusuran masih berlangsung.

Sejumlah warga berteriak histeris mendapati rumah tinggalnya dihancurkan oleh petugas menggunakan alat berat. (metrojateng.com)

Aris Basuki, salah seorang warga yang tergusur mengatakan, warga sudah 10 tahunan tinggal di tempat tersebut. Ia mengaku rumahnya dibongkar tanpa diberikan uang tali asih, apalagi uang ganti rugi. Ia mengaku sangat kecewa dengan pembongkaran paksa tersebut.

“Janji (pemerintah) mau kasih tempat tinggal, tapi nggak ada. Kami tidak mau dipindah di rusunawa, karena tiap bulan harus bayar. Kami maunya di kasih uang, kami mau ngontrak,” katanya.

Dia mengaku tinggal bersama 8 anggota keluarga lainnya. Untuk sementara tetap akan bertahan di rumahnya yang hancur karena belum tahu akan tinggal dimana. Apalagi anaknya juga masih sekolah kelas 4 di SD Kemijen dekat rumah.

“Kami hanya nelayan, penghasilan kami tidak menentu,” katanya.

Lurah Tanjungmas Margo Haryadi mengatakan, rumah warga yang digusur tersebut ilegal. Mereka tinggal di bantaran sungai sehingga tidak memiliki sertifikat. “Kami sudah berkali ulang melakukan sosialisasi. Kami tawarkan pindah di rusunawa Kudu, tapi mereka tetap tidak mau. Sehingga pemerintah terpaksa melakukan pembongkaran,” katanya. (duh)

 

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.