Puluhan Ribu Pemilih di Brebes Ditemukan Lahir 1 Juli

Data ini merupakan hasil masukan dari BPN paslon 02. Semuanya ada 125.759 pemilih yang diragukan datanya

BREBES – Sebanyak 125.759 pemilih dari Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan (DPTHP) tahap dua di Kabupaten Brebes dinilai janggal oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Paslon nomor 02. Pasalnya, 97.680 pemilih diketahui lahir pada 1 Juli.

KPU Brebes melibatkan warga setempat untuk dijadikan tenaga pelipat surat di 17 kecamatan. Foto: metrojateng.com/ adithya

Secara detail, data pemilih yang diragukan adalah mereka yang lahir pada tanggal 1 Januari sebanyak 11.108 orang, 1 Juli 97.680 orang, tanggal 31 Desember 15.542, di bawah usia 17 tahun 17 orang dan di atas umur 90 tahun terdapat 1.412 orang.

“Data ini merupakan hasil masukan dari BPN paslon 02. Semuanya ada 125.759 pemilih yang diragukan datanya,” ungkap Ketua KPU Brebes, Muamar Riza Pahlevi, Selasa (19/3/2019).

Atas masukan BPN itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Brebes melakukan verifikasi ulang terhadap 125.759 data pemilih tersebut. Verifikasi itu dilakukan sebagai tindak lanjut perintah KPU RI untuk mengecek kebenaran data pemilih yang diragukan itu.

Menurut Riza, proses verifikasi ulang itu dilakukan dengan mendatangi langsung rumah para pemilih menggunakan sistem semple di beberapa tempat. Di antaranya, di Kecamatan Ketanggungan, Tanjung, Kersana, Jatibarang dan Songgom.

Hasilnya, semua data valid dan tidak ditemukan adanya kejanggalan. Mereka yang didatangi datanya sesuai dengan yang tercantum di DPT.

“Dari hasil verifikasi yang dilakukan terkait kejanggalan yang disampaikan tim BPN paslon 02, kami sudah cek secara acak untuk ambil sampel. Hasilnya valid semua,” tandasnya.

Diterangkan lebih lanjut, munculnya data pemilih yang lahir pada tanggal 1 Januari, 1 Juli, 31 Desember dalam jumlah banyak, dikarenakan saat membuat akta kelahiran di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, mereka lupa tanggal dan bulan lahirnya. Sehingga, berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), data kelahiran mereka dicatat pada tanggal-tanggal tersebut.

“Ini memang menjadi kebijakan Mendagri, bila lahirnya pada awal tahun maka ditulis 1 Januari, pertengahan tahun dicatat 1 Juli dan akhir tahun 31 Desember,” jelasnya.

Lebih lanjut Riza menerangkan, sementara dari hasil verifikasi terhadap pemilih yang berusia di bawah 17 tahun, itu dikarenakan mereka sudah menikah. Sesuai aturan, yang sudah menikah dan usianya di bawah 17 tahun mempunyai hak memilih dalam Pemilu. Termasuk, pemilih usia di atas 90 tahun, ternyata orangnya memang ada. (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.