Pulau Menjangan Besar Ditutup, Pemilik Penangkaran Hiu Dipanggil

Penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar Karimunjawa yang dijadikan tempat wisata tersebut tidak dilengkapi perizinan.

Ilustrasi. Salah satu penangkaran hiu di Karimunjawa. (Foto: metrojateng.com)

SEMARANG – Lokasi wisata Pulau Menjangan Besar, Kepulauan Karimunjawa, Jepara akhirnya ditutup pasca kasus kematian puluhan ikan hiu yang dipelihara di tempat tersebut. Penutupan lokasi wisata itu atas perintah Taman Balai Karimunjawa sebagai pengelola sesuai surat kepala balai nomor S.182/T.34/TU/GKM/6/2018.

“Pada tanggal 8 Juni 2018 melalui surat Kepala Balai nomor S.182/T.34/TU/GKM/6/2018 memerintahkan agar saudara Minarno alias Cun Ming untuk menghentikan kegiatan wisata alam di lokasi tersebut,” ujar Agus Prabowo, Kepala Balai Taman Nasional Karimunjawa, ketika dikontak metrojateng.com, Selasa (19/3/2019).

Sekadar untuk informasi, dilansir dari antarajateng.com, Minarno alias Cun Ming merupakan pemilik lima pulau di Karimunjawa, termasuk pemilik penangkaran “Hiu Kencana” di Pulau Menjangan Besar. Pria keturunan Tionghoa kelahiran Surabaya, 16 Maret 1936 yang tinggal di Kota Semarang itu mulai masuk ke Karimunjawa 1960-an.

Menindaklanjuti kasus kematian puluhan hiu tersebut, Agus Prabowo mengaku telah melakukan koordinasi dengan Bupati Jepara yang diwakili oleh pejabat Asisten II Jepara dan para pejabat dinas terkait.

Dalam kesempatan yang sama, Minarno juga dipanggil untuk dimintai klarifikasi. “Dalam audiensi tersebut BTNKj (Balai Taman Nasional Karimunjawa) menegaskan kembali kebijakan penghentian kegiatan wisata hiu tersebut,” tuturnya.

Penutupan Pulau Menjangan Besar, lanjut dia, merupakan buntut reaksi masyarakat yang mendapati banyaknya kasus di wilayah tersebut.

Kasus lain yang sempat mencuat di Menjangan Besar, lanjut dia, pernah terjadi insiden pada 13 Maret 2016 silam. Saat itu, turis domestik bernama Nur Madina asal Yogyakarta digigit hiu saat berenang di spot penangkaran.

Tetapi, lanjutnya, kebijakan menutup Pulau Menjangan Besar juga tindakan positif untuk menunjukkan kepedulian terhadap Karimunjawa. Hal ini juga didasari atas penyelidikan bahwa keramba penangkaran hiu sebagai atraksi wisata, telah dipugar. Lalu diubah menjadi kolam pemeliharaan hiu sekaligus kegiatan wisata yang tidak dilengkapi dengan perizinan.

“Kasusnya sedang ditangani dengan melibatkan pihak-pihak terkait,” bebernya.

Tunggu Hasil Uji Lab

Pemilik penangkaran hiu, Cun Ming menyampaikam bahwa ikan hiu yang mati lebih dari seratus ekor. Peristiwa itu kali pertama diketahui oleh penjaga penangkaran, Kamis (7/3) pagi.

Penangkaran hiu di Karimunjawa ditutup sementara. Foto: metrojateng.com

“Kamis pagi penjaga penangkar menemukan ikan hiu indukan mati mengambang di kolam. Pas dihitung sekitar 110 ikan hiu yang mati,” ujarnya, Selasa (19/3/2019).

Bukan hanya ikan hiu, ikan jenis lainnya yang berada di kolam lain juga ikut mati. Di antaranya 20 ekor ikan kambing lebar dan 10 ekor ikan tyger. Dia merasa heran karena belum diketahui penyebab matinya ikan-ikan tersebut.

“Saya heran mati kok banyak sekali. Akhirnya saya menunggu kapal hari Jumat membawa sampel air dan jeroan ikan untuk dibawa ke laboratorium di Jepara. Tapi karena Jumat siang sudah tutup dan Sabtu-Minggu libur akhirnya harus menunggu,” paparnya.

Untuk saat ini, kasus matinya ikan hiu tersebut dibawa ke ranah hukum. “Saya sudah melaporkan kejadian ini ke Polda Jateng. Untuk tes laboratorium juga kami lakukan Wates, Yogyakarta. Katanya butuh waktu 21 hari untuk tahu hasilnya,” tandasnya. (far/MJ-23)

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.