“Puisi Klas Menengah” dalam Komik-komik Yudha Sandy

Dalam pameran itu, Yudha Sandy menampilkan karya-karya yang terdiri atas frame komik, mural, dan buku komik.

SEMARANG – Seniman grafis asal Yogyakarta, Yudha Sandy, memamerkan karya-karya komiknya dalam pameran seni visual bertajuk “Puisi Klas Menengah” di Grobak Art Kos, Jalan Stonen nomor 29, Gajahmungkur, Semarang. Pameran yang didukung oleh Muntje Foundation dan Kolektif Hysteria tersebut berlangsung sejak hari Sabtu (21/6/2019) hingga pertengahan Juli 2019 mendatang.

Karya-karya Yudha Sandy yang dipamerkan di Gerobak Art Kos, Jalan Stonen nomor 29, Gajahmungkur, Semarang. (metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

Dalam pameran itu, Yudha Sandy menampilkan karya-karya yang terdiri atas frame komik, mural, dan buku komik. Karya-karya tersebut merupakan bentuk visual dari catatan atau puisi Yudha Sandy sejak 2017 hingga sekarang.

Yudha Sandy berfoto bersama pengunjung di ruang pameran seni visual “Puisi Klas Menengah”.

“Pameran ‘Puisi Klas Menengah’ ini adalah frame yang dibuat untuk bentuk visual dari beberapa puisi dan catatan saya di story Instagram sejak tahun 2017. Tema catatan itu sendiri juga beragam. Mulai dari alam, politik, persahabatan, dan cinta, ” kata Sandy kepada metrojateng.com, Senin (24/6/2019).

Puisi dan catatan singkat yang kemudian divisualkan tersebut merupakan rekam jejak peristiwa yang dibaca dan dilihat oleh Sandy. Setidaknya ada 16 frame komik, satu mural, dan sepuluh buku komik. Medium komik dipilih Sandy untuk mempresentasikan catatan dan puisinya yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, politik, ekonomi, sejarah, seni, dan ideologi.

“Kenapa komik karena saya memang suka menulis cerita dan gambar komik, meskipun saya juga melukis,” ujarnya.

Dari sekian banyak karya yang dipamerkan dalam pameran tunggal tersebut, ada satu karya mural yang menurut Sandy merupakan representasi dari kehidupan. Di mana dalam mural tersebut terdapat gambar robot-robot keluar dari pesawat yang seperti akan berperang. Tapi dalam mural tersebut juga ditampilkan bagaimana orang-orang seperti tidak terganggu dan tetap melakukan aktivitas masing-masing.

“Setiap gambar memang berhubungan, tetapi masing-masing punya cerita sendiri di tengah gram besar yang melingkupinya,” papar seniman yang pernah menempuh masa residensi di Brussel, Belgia, tahun lalu itu.

Selain menikmati karya visual, pengunjung juga dapat membaca di tepat buku-buku komik karya Yudy Sandy. Pengunjung juga dapat membeli buku-buku tersebut.

“Intinya melalui pameran ini saya ingin berbagi cerita, karya, dan pengalaman kepada orang lain. Ini adalah pameran tunggal saya keenam,” pungkas Sandy yang menargetkan setiap 2-3 tahun sekali menggelar pameran tunggal. (aka)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.