Property Expo hasilkan transaksi 59 Unit Rumah Senilai Rp 42 Miliar

Tertarik- Konsumen sngt antusias menanyakan rumah yng kan dibelinya untuk tempat tinggal. (tya)

 

SEMARANG, METROJATENG.COM- Pameran property Expo 4 yang digelar di mall Paragon 22-31 Agustus lalu mampu menghasilkan transaksi 59 unit rumah dari 5 peserta pameran. Pameran yang digelar ditengah pandemi ini memberikan angin segar bagi pengembang, karena potensi pasar perumahan masih ada.

Ketua panitia Property Expo 4 Dibya  K Hidayat , Rabu (2/9) mengatakan dari 59 unit rumah yang terjual menghasilkan transaksi dengan nilai Rp 40 miliar. Transaksi diprediksikan akan bertambah, karena masih ada konsumen yang tertarik untuk membeli.

“Pameran ini merupakan angin segar bagi para pengembang, karena daya beli masyarakat mulai membaik”, ujar Dibya didampingi sekertaris pameran Juremi.

Rumah, masih menjadi kebutuhan pokok, sehingga ditengah pandemi masyarakat masih membutuhkan rumah untuk tempat tinggal maupun investasi. Hasil transaksi di pameran ini memberikan semangat bagi pengembang untuk terus melakukan inovasi.

Menyinggung terjadi penurunan harga rumah,  Dibya menegaskan tidak ada penurunan harga. Sebaliknya pengembangan melakukan inovasi membangun rumah, sesuai dengan kemampuan masyarakat.

Inovasi ini antara lain membuat rumah tipe baru, misalnya tipe 29 dengan luas tanah 66 meter persegi dengan harga dibawah Rp 300 jutaan. Inovasi ini membuat masyarakat tertarik untuk membelinya.

Dii penjualan 59 unit di pameran merupakan tipe menengah dengan harga dibawah Rp 1 miliar. Adanya inovasi yang dilakukan pengembang membuat harga rumah semakin terjangkau.

“Kami optimis, di pameran berikutnya penjualan akan terus membaik. Diharapkan perbankan memberikan stimulan yang bagus untuk meningkatkan penjualan rumah komersiil”, tutur Dibya.

Menurut Dibya kendala yang dialami pengembang saat ini susahnya perbankan dalam mengucurkan kredit sejak pandemi berlangsung. Diakui Dibya pengajuan KPR kini sngat terbatas, dan hanya PNS, BUMN TNI dan Polri serta pegawai yang memiliki perol di perbankan yng dpat mengajukan KPR.

“Untuk pegawai  perusahaan swasta kini sulit untuk mengajukan KPR, apalagi yang masuk dlam Red Zone atau usaha yang terkena imbas Covid +19, seperti kuliner sngat susah untuk mendpatkn KPR, tambah Dibya.

Melihat kondisi saat ini pengembang berharap pemerintah dlam hal ini perbankn memberikan kelonggaran dlam memberikan KPR untuk bidang usha yng masuk Red zone. Perbnkn diharapkan dpat beradaptasi dengan pasar.

” Kami optimis ditengah pandemi bisnis property akan terus membaik. Untuk itu perlu adanya dukungan dari pemerintah dlm upya meningkatkan daya beli masyarakat dan melonggarkan persyaratan KPR, tutup Dibya. (tya)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.