“Preman-preman Taubat” Menggelitik Pasar Takjil Desa Kalikalong

Pasar Takjil digelar tiap bulan Ramadan dari hari pertama puasa hingga H-1 Lebaran.

PATI – Sore hari di Bulan Ramadan menjadi momen yang menyenangkan dibanding hari-hari biasa. Bayangkan, seharian harus menahan lapar dan dahaga sampai azan magrib tiba.

Pementasan wayang rotan di Pasar Takjil Desa Kalikalong Kecamatan Tayu Kabupaten Pati. Foto: metrojateng.com

Tak jarang, sore hari menjadi momen tersendiri untuk menunggu waktu buka puasa. Masyarakat yang mayoritas muslim bahkan menggelar berbagai kegiatan, yang disebut ngabuburit. Meski bentuk dan isi acaranya berbeda.

Di Desa Kalikalong, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati misalnya, tiap bulan Ramadan di sepanjang gapura masuk sampai balaidesa diadakan Pasar Takjil. Berbagai macam jajan, makanan, sembako hingga fesyen pun dijajakan.

Bukan hanya itu, Pasar Takjil juga diwarnai berbagai hiburan. Di antaranya kesenian tari dan dance modern.

Lebih menarik, ada juga pentas Wayang Rotan dari Sanggar Seni Budaya Dhamar Boemi Desa Telukwetan, Welahan, Jepara. Tak berlebihan jika Pasar Takjil ini mampu mengundang banyak pengunjung.

Pementasan wayang berkonsep humor itu juga menjadi daya tarik pengunjung. Cerita “Preman-preman Taubat” menyuguhkan guyonan dengan tanpa mengesampingkan pesan moral.

Amhal Kaifahmi, seorang panitia Pasar Takjil Desa Kalikalong menuturkan bahwa Pasar Takjil digelar tiap bulan Ramadan dari hari pertama puasa hingga H-1 Lebaran.

“Ini untuk memenuhi kebutuhan warga, sekaligus menumbuhkan perekonomian desa,” katanya, Senin (6/5/2019)

Untuk hiburan, tak lain sebagai daya tarik bagi pengunjung. “Ada tari-tarian dan Wayang rotan di hari pertama ini. Wayang rotan sendiri cukup unik karena humornya, dan yang main anak-anak muda,” tuturnya.

Sementara, dalang wayang rotan, Wikha Setiawan menyampaikan bahwa pementasan wayang rotan tak lebih sekadar guyonan. Hanya saja, unsur pertunjukan masih diterapkan.

“Ada unsur wayangnya, teater, panggung dan lainnya seperti seni pertunjukan pada umumnya. Namun, dari segi cerita dan adegan kita lebih mementingkan penyesuaian dengan karakter penonton. Sehingga wayang rotan lebih mudah diterima semua kalangan, terutama warga desa,” tandasnya.

Wayang rotan itu sendiri media dongeng yang terbuat dari rotan. Kali pertama hasil karya anak-anak di Rumah Aksara milik Wikha. “Lalu dikembangkan menjadi sebuah pementasan,” pungkasnya. (*)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.