Polri Akan Proses Hukum Importir Yang Timbun Kedelai

Proses Hukum – Satgas Pangan Bareskrim Polri tengah melakukan pengecekan di gudang – gudang kedelai dan bila terbukti ada perusahaan melakukan penimbunan akan ditindak tegas.(ist/tya)

 

JAKARTA, METROJATENG.COM – Polri menyatakan akan memproses secara hukum bagi importir kedelai yang mencoba melalukan penimbunan dan memainkan harga sehingga diduga menyebabkan kelangkaan dan mahalnya bahan baku tersebut.

“Polri merespon kelangkaan kedelai di pasar terutama importir, apabila di temukan dugaan Pidana Satgas Pangan lakukan penegakan hukum,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono, menanggapi kelangkaan kedelai yang berakibat naiknya harga tahu dan tempe.

Argo menyebut, Satgas Pangan Bareskrim Polri sendiri sudah melakukan pengecekan ke gudang-gudang importir kedelai kemarin hari.Diantaranya adalah, gudang yang berada di Bekasi, yakni, PT. Segitiga Agro Mandiri. Dalam temuannya, bahwa perusahaan itu bergerak di bidang impor kedelai ex Amerika dengan kapasitas antara 6.000 hingga 7.000 ton per bulan.

“Kedelai import tersebut selain diperuntukan guna pemenuhan industri tahu dan tempe untuk kwalitas II juga dipergunakan untuk proses pakan ternak dan proses pembuatan minyak kedelai serta produk turunan lainya,” ujar Argo.

Selain itu juga untuk di distribusi ke UMKM industri tahu dan tempe ke wilayah Jabodetabek dan Bandung Jawa Barat dengan pendistribusian antara 250-300 ton per hari dan stok tersisa saat ini  2.500 ton.Kacang kedelai tersebut disalurkan melalui distributor dengan harga saat ini Rp 8.600/Kg terjadi kenaikan sekitar Rp 1.000 sejak pertengahan bulan Desember 2020.

“Didapat informasi dari Staff Perusahaan tersebut Kenaikan harga disebabkan karena harga beli di negara asal terjadi kenaikan yang sebelumnya Rp6.800 menjadi  Rp8.300 .Selain itu juga disebabkan dikarenakan sejak pertengahan bulan Oktober-Desember 2020 kapal yang langsung tujuan Indonesia sangat jarang sehingga menggunakan angkutan tujuan singapore dan sering terjadinya delay dikarenakan menunggu waktu dalam konekting ke Indonesia sehingga keterlambatan antara 2- 3 minggu,” papar Argo.

Kemudian pengecekan kedua dilakukan di PT. FKS Mitra Agro di Pasar Kemis Pasir Jaya Cikupa Tangerang. Dari pemeriksaan itu diketahui bahwa pada tanggal 31 Desember 2020 kedelai masuk 533,29 ton dan sudah didistribusikan  79 ton, sisa stok per 31 Desember 2020 ssekitar  474,29 ton.

” Pada tanggal 4 Januari 2021 kedelai masuk 460,22 ton dan sudah didistribusikan 76 ton, sisa stok per 4 Januari  384,22 ton. Sisa stok per tanggal 5 Januari 2021 sekitar  858,51 ton,” ucap Argo.

Selanjutnya, PT. Sungai Budi di Daan Mogot, Kota Tangerang, Banten. Ditemukan fakta bahwa, pada tanggal 4 Januari 2021 kedelai masuk sebanyak 400 ton dan sebanyak 300 ton sudah siap didistribusikan ke konsumen, sehingga sisa stok saat ini per 5 Januari 2021 sebanyak 100 ton.(tya)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.