Polres Tegal Bantu Pulihkan Lokasi Terdampak Puting Beliung

Proses belajar mengajar terpaksa diliburkan menyusul banyaknya ruang kelas yang rusak dan kotor.

TEGAL – Sejumlah personel Polres Tegal diterjunkan ke lokasi bencana puting beliung di Desa Selapura dan Desa Blubuk, Kecamatan Dukuhwaru, Jumat (18/1/2019) pagi. Selain membantu warga terdampak bencana, petugas juga mendirikan tenda darurat.

Sejumlah personel Polres Tegal nampak bergotong rotong membersihkan puing-puing rumah dinas Kepala Sekolah SDN 02 Dukuhwaru yang tersapu angin puting beliung, Kamis kemarin. Foto : metrojateng.com/ adithya

“Kami terjunkan 300 personel untuk disebar ke wilayah yang terdampak. Karena data yang tercatat ada dua desa yang terkena puting beliung,” ungkap Kapolres Tegal, AKBP Dwi Agus P disela tinjauan di lokasi bencana.

Dijelaskan Kapolres, pihaknya akan memfokuskan pemulihan di SD Negeri 02 Dukuhwaru. Sebab, proses belajar mengajar terpaksa diliburkan menyusul banyaknya ruang kelas yang rusak dan kotor. Termasuk pula sebuah bangunan rumah tinggal kepala sekolah yang atapnya hilang tersapu angin kencang, Kamis (17/1) kemarin.

Selain itu, lanjut Kapolres, direncanakan para Polisi Wanita (Polwan) akan dikerahkan besok, Sabtu (19/1) untuk memberikan trauma healing kepada siswa kelas satu dan kelas dua.

“Untuk menunggu kelas dirapikan dan dibersihkan, kami sediakan tenda darurat. Besok pagi, Polwan-polwan diterjunkan untuk memberi trauma hiling kepada anak-anak,” pungkasnya.

Berlindung di Kelas

Sementara itu, penjaga sekolah SDN 02 Dukuhwaru, Harmoko menyebutkan, saat kejadian dirinya tengah berada di dalam kamar bersama istri dan dua anaknya. Dia berhasil menyelamatkan diri setelah berlindung di dapur dan ruang kelas.

BACA JUGA: Disapu Puting Beliung, Belasan Rumah dan Satu Sekolah di Tegal Rusak Berat

“Rumdin kepala sekolah kebetulan saya yang menempati. Kejadiannya cepat, saat suasana gelap, tiba-tiba seluruh atap terbang. Saya gendong anak pertama, istri gendong anak kedua dan kami menuju dapur,” ujarnya.

Setelah dirasa aman, Moko bersama istri dan dua anaknya baru keluar rumdin, kemudian berlindung sementara di ruang kelas. Diceritakan Moko, dirinya sempat melihat beberapa pohon tumbang dan batangnya jatuh menimpa atap bangunan sekolah.

“Begitu saya sudah di kelas, itu pohon-pohon pada roboh. Bahkan, patahan batangnya banyak yang jatuh ke atap kelas. Setelah itu, baru turun hujan,” tutupnya. (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.