Politik Identitas Milenial Cerdas

Oleh: Dwi Arifin

Di satu sisi, pandangan generasi milenial tak dapat disalahkan. Tetapi di sisi lain, muncul pertanyaan sampai kapan mereka harus acuh tak acuh pada politik?

BICARA politik, tak sedikit orang yang menghindar. Fakta hari ini menunjukkan bahwa politik oleh sebagian besar orang dipandang kotor, picik maupun licik. Fenomena ini disebabkan oleh karena perilaku politisi dewasa ini yang tak sejalan lagi dengan hakikat politik, yakni pintu untuk mencapai kebaikan bersama (bonum commune).

ilustrasi

Ada begitu banyak praktik tak sehat, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang bergelayutan di panggung politik. Kenyataan ini sungguh memuakkan.

Dalam pandangan sebagian besar generasi milenial, politik tak ubahnya sarang para penyamun, koruptor dan sebagainya. Pandangan ini akhirnya memunculkan kecurigaan bahkan ketidaksukaan pada politik.

Di satu sisi, pandangan generasi milenial tak dapat disalahkan. Sistem demokrasi era sekarang seperti nyamengalami kecacatan. Demokrasi hanya sebagai alat untuk menggembungkan isi perut dan dompet atas nama rakyat, agama dan lain-lain.

Tetapi di sisi lain, muncul pertanyaan sampai kapan mereka harus acuh tak acuh pada politik?

Sebetulnya, ada pula generasi milenial yang bersedia berpolitik praktis. Ada generasi millenial yang paham dengan pemilu. Mereka malah sangat concern dengan demokrasi kita. Meski mereka berada di tengah sentimen golongan tua yang memandang mereka sebagai anak-kemarin yang minim pengalaman, tapi mereka ada.

Sayangnya, akhir-akhir ini politik ditolak masuk kampus dengan alasan undang-undang yang melarang politik masuk di area pendidikan. Selain itu pula mahasiswa tidak boleh berpolitik praktis, ini ditegaskan oleh Menristekdikti.

Padahal, bukankah dengan kekuatan idealisme orang muda, bisa jadi martabat politik akan kembali?

Semestinya pemudalah yang harus berperan aktif dalam membuat perubahan yang lebih baik untuk bangsa. Bahkan pemuda tidak boleh alergi untuk ikut terjun di ranah politik. Mengingat, semua aspek kehidupan berbangsa tidak terlepas dari peran politik strategis.

Politik itu kompleks, terlalu naif bila hanya dipersempit pada moment pemilu saja. Negara ini berdemokrasi siapapun bebas melakukan aksi politiknya. Yang perlu dipahami, setiap aksi ada konsekuensinya.

Pemuda dan politik praktis merupakan nuansa politik kekinian. Dalam atmosfer negara berdemokrasi yang penting pilihan politik kita jangan sampai memecah persatuan kita sebagai pemuda yg mempunyai fungsi untuk mengisi kemerdekaan RI.

 

Politik Sebagai Tanggung Jawab Bersama

Pemerintah dan masyarakat itu saling bertalian. Semua harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap kondisi perpolitikan Indonesia. Kita tidak sedang dalam lajur kiri atau kanan. Kita sedang membangun jembatan kokoh untuk menghubungkan pemerintah dan masyarakat.

Memang integritas politik di indonesia masih jauh dari kata sempurna. Hingga tak asing lagi jika kita mendapatkan paradigma yang selalu menganggap, bahwa politik itu hanyalah tata cara yang digunakan oleh oknum tertentu untuk memuaskan kepentingan pribadi dan menjadikan masyarakat sebagai suatu jalan untuk memperoleh hasil.

Di titik ini, justri pemuda harusnya bersepakat bahwa generasi milenial harus berpolitik. Dengan asumsi bahwa politik untuk pengaturan yang ke arah yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaan adalah haruskah generasi milenial berpolitik praktis?

Menurut hemat saya generasi milenial harus bisa berpolitik secara cerdas. Jangan takut untuk berpolitik dan mempromosikan idealismenya. Oleh karena itu dia harus merefleksikan sikap politiknya dalam kehidupan sehari-hari, melalui karya-karya yang di sumbangkan untuk negeri.

Kedua, tentunya seorang generasi milenial harus punya tolak ukur dalam proses berpolitik. memahami bahwa untuk mencapai sebuah ending politik (kebaikan/kebangkitan), maka ada komponen yang harus dipenuhi dan tidak bisa dipisahkan. Yakni perasaan yang sama, pemikiran yang sama, peraturan yang sama.

Jadi untuk mencapai sebuah kebaikan dalam sebuah masyarakat maka tiga komponen ini harus diperhatikan. Tatkala masyarakat sudah satu perasaan, pemikiran dan peraturan maka kesenjangan yang terjadi seperti sekarang ini akan sirna dgn sendirinya.

Nah, poinnya adalah, seorang milenial adalah harus berpolitik untuk mewujudkan tiga komponen di atas melalui karya-karya. Untuk mencapai tiga komponen itu tidak harus dalam konsep keseragaman.

 

Sadar Keragaman

Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara yang multi-kultural. Kalau kita tengok sejarah, asas perjuangan adalah kesamaan rasa bahwa kita sedang ditindas oleh para penjajah. Maka timbullah kesadaran dari proses berfikir bahwa kita harus merdeka. Lalu dirumuskanlah Pancasila sebagai dasar negara, dan diikrarkanlah kemerdekaan.

Revolusi karakter bukan berarti harus merubah pola keteraturan berpikir. Secara biologis, pertaruhannya adalah homeostatis, menakar persentase mengelola akal sadar. Kemampuan pengelolaan ini bersumber dari kesediaan membuka masalah tanpa harus menyuplai nutrisi pengendapan akal.

Fenomena saat ini, akal terendapkan hanya karena menaikan bilangan nilai prestise diri. Segala cara dilakukan dengan mendobrak pagar-pagar aturan yang telah ditata dengan rapi. Alhasil mereka yang katanya mewakili suara rakyat, hanya mewakili suara saja tanpa ada kematangan kerakter berintegritas.

Ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Virus kedangkalan karakter akan menginfeksi generasi-generasi penerus pembangunan bangsa. Dikotomi jelas akan semakin terlihat karena perbedaan pola pikir. Mereka yang baru datang mencicipi dunia perpolitikan kaget tanpa sebab, seperti sedang bermimpi lalu jatuh dari tempat tidur.

“Mengapa seperti ini?” Dalam hati tersimpan teka-teki individu yang baru datang itu. Padahal individu ini menawarkan perubahan sistem yang lebih teratur dalam hal meregulasi karakter. Tidak hanya integritas yang diperlukan. Sikap ngotot yang rasional perlu dipadukan mengusung kecerdasan yang tenang dan terarah.

============

Tentang Penulis. Dwi Arifin adalah mahasiswa Program Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB University. Ia dapat dihubungi melalui surel: arifin.dwipol@gmail.com.

 

Simak kata remaja di Semarang tentang Pemilu 2019 dalam video beriku:

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.