Polisi Patroli Siber Selama Pemilu, Kejar Penyebar Hoax

Kasus penyebaran hoax dan ujaran kebencian tersebut diduga dilakukan secara terorganisasi.

SEMARANG – Serangan hoax dan ujaran kebencian yang masif terjadi mendekati masa pemilu terus menjadi perhatian Tim Cybercrime Mabes Polri. Selama Januari hingga Maret 2019 ini setidaknya sudah ada enam penyidikan perkara hoax dan ujaran kebencian yang dilakukan Subdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Salah satu kasus yang sorotan adalah hoax tujuh kontainer dicoblos.

Kasubdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Dani Kustoni saat memberikan keterangan di Wisma Perdamaian, Semarang.(metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

“Patroli Siber terus kami lakukan. Perhatian kami adalah hoax dan hatespeech. Mendekati era pemilu ini ada peningkatan kasus. Sudah ada enam berkas yang kami sidik sampai Maret 2019,” kata Kasubdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Dani Kustoni, saat ditemui usia seminar nasional “Penegakan Hukum Terhadap Penyebar Berita Hoax Menghadapi Pemilu 2019” di Wisma Perdamaian, Semarang, Rabu (27/3/2019).

Dani menjelaskan sejauh ini sudah banyak tindakan yang dilakukan mulai takedown akun tidak real hingga proses pidana untuk akun real. Sejauh ini sudah ada sekitar 2 ribuan akun tidak real yang diajukan untuk di-takedown. Sementara untuk kasus pidana pada tahun 2018 ada sekitar 237 kasus.

“Kalau yang akunnya real maka diproses pidana. Kasus yang ramai pada awal tahun ini adalah hoax tujuh kontainer surat suara dicoblos. Kasus itu sudah P21 jadi lima berkas, empat berkas masih dalam penelitian jaksa. Tersangkanya BBP (Bagus Bawana Putra), sudah P21 dan mau tahap sidang,” jelasnya.

Dani memaparkan penyebaran hoax dan ujaran kebencian dilakukan secara masif dan terus-menerus. Pola penyebarannya juga cepat hanya dalam hitungan detik. Berdasarkan data yang ada, penyebaran terbesar dan tercepat adalah melalui pesan WhatsApp dan media sosial khususnya Facebook. Bahkan penyebaran hoax dan ujaran kebencian tersebut diduga dilakukan secara terorganisasi.

“Itu kan masif. Penyebaran terus menerus, bertubi-tubi, dan dikirimnya cepat sekali hanya hitungan detik,” paparnya.

Disinggung apakah penyebaran hoax tersebut juga melibatkan jangkauan luar negeri, Dani secara tegas masih melakukan kajian dan penelitian karena itu ada kaitannya dengan pola penyebaran fire spreed. Apakah memang ada keterlibatan state atau orang ekspert yang ditiru.

“Kendalanya itu kan masuk tanah intelijen, harus dilakukan lidik lagi agar terbuka, ini kan tertutup semua,” papar Dani.

“Karena memang yang diserang secara psikologis adalah amigdala, ahli psikologi menyebutnya itu. Ketika disemburkan berita bohong secara kontinyu, cepat, dan terus-menerus sehingga muncul rasa takut dan mempengaruhi orientasi,” tandasnya.

Dani mengimbau dalam hal ini masyarakat harus pintar. Bisa melihat dan melakukan check and recheck. “Bisa bertanya dulu, istilahnya saring sebelum sharing,” pungkasnya. (aka)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.