Pikul Tanggungjawab Berat, Belasan Petugas TPS Meninggal

Pemilu Terberat

Ada pula tujuh orang petugas penyelenggara Pemilu mengalami patah tulang, keguguran, hingga stroke, saat menyiapkan kebutuhan logistik di TPS.

SEMARANG – Gara-gara kelelahan bertugas lemburan hingga pagi hari, nasib tragis menimpa sejumlah anggota penyelenggara Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Jateng. Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat mencatat, ada belasan petugas penyelenggara Pemilu yang meninggal dunia.

 

Pengiriman logistik Pemilu mendapat pengawalan personel Polres Brebes. Foto: metrojateng.com/adithya

 

Komisioner Divisi Data dan Informasi KPU Jateng, Paulus Widiyantoro mengaku anggota KPPS yang dilaporkan meninggal usai pelaksanaan Pemilu berasal dari Kabupaten Demak, Banyumas, Sukoharjo, Banjarnegara, dan Rembang.

Kemudian, lanjut dia, ada tiga petugas pengamanan TPS yang meregang nyawa berada di salah satu TPS di Kabupaten Pemalang, Batang, dan Karanganyar.

Ia mensinyalir pemicu meninggalnya para penyelenggara TPS itu lantaran kelelahan atas beban kerja selama menghadapi coblosan yang sangat berat.

Para anggota KPPS sudah mulai mempersiapkan TPS sejak H-1 sore hari. Kemudian hari H, mereka sudah harus bekerja sebelum pukul 07.00. Ditambah lagi, adanya kesulitan ketika harus bertemu pemilih yang beragam.

Mereka juga harus siap dipanggil jika terjadi masalah saat pelaksanaan Pleno di tingkat kecamatan. Sehingga, selain beban fisik, mereka juga menerima tekanan beban psikis.

Beban psikis yang dimaksud Paulus adalah, para anggota KPPS tersebut harus menghadapi sifat dari para pemilik suara yang beragam. Terutama mereka yang termakan kabar hoaks.

“Misalnya, pemilih yang belum terdaftar dalam DPT terus nggak bawa A5 dan dari luar kota, karena hoaks kemarin bahwa itu bisa mencoblos dengan KTP, mereka memaksakan. Jadi berdebat itu sampai itu menguras energi yang luar biasa bagi teman-teman penyelenggara kemarin,” ujarnya, Sabtu (20/4/2019).

“Nanti saat penghitungan juga, itu ada lima surat suara berat loh,” imbuhnya.

Selain itu, katanya, masih ada pula tujuh orang lain ada yang terluka saat menyiapkan kebutuhan logistik di TPS. Mulai mengalami patah tulang tangan, lalu ada yang pingsan, ada dua orang keguguran, mendadak mengalami stroke dan ada yang terpaksa dilarikan ke ICU karena koma beberapa hari.

Pihaknya sedang mengkaji untuk memberikan santunan bagi anggota penyelenggara TPS yang meninggal maupun sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Saat ini sudah ada kesepakatan dari para Komisioner KPU seluruh Indonesia untuk secara swadaya mengumpulkan dana sosial.

“Tadi juga dibahas di grup nasional, kami akan kolektif untuk menyantuni mereka. Jadi, pakai dana sosial yang dari kami untuk (anggota) kami juga,” ujarnya. (far)

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.