Pesisir Pati dan Rembang Berpotensi Kemarau Panjang, Ini Saran BMKG

Kemarau tahun ini juga diperkirakan banyak sumur mengering serta debit sungai menyusut. Sejumlah wilayah berpotensi kekeringan.

SEMARANG – Kawasan pesisir pantai utara Kabupaten Pati dan Rembang yang berbatasan dengan Jawa Timur, diperkirakan mengalami musim kemarau panjang selama 2019.

Kasi Data dan Informasi, Stasiun Klimatologi Kelas I, BMKG Kota Semarang, Iis Widya Harmoko. (fariz fardianto/metrojateng.com)

Kasi Data dan Informasi, Stasiun Klimatologi Kelas I, BMKG Kota Semarang, Iis Widya Harmoko menjelaskan musim kemarau yang berkepanjangan akan terjadi selama 10 dasarian (sepuluh hari).

Hal ini, lanjutnya, juga akan dibarengi dengan peningkatan suhu muka air laut yang menghangat ketimbang kondisi normal. “Ada beberapa daerah pegunungan yang mengalami kemarau terpendek yaitu sekitar 9 dasarian. Tetapi ada pula yang 10 dasarian dengan perkiraan kemarau yang panjang. Terutama di pesisir pantai utara sekitar wilayah Pati, Rembang, Blora yang berbatasan dengan Jatim. Wonogiri juga akan mengalami hal yang sama. Siklusnya berbeda-beda sesuai demografis daerahnya masing-masing,” ungkap Iis, Minggu (31/3/2019).

Dengan datangnya kemarau yang lebih panjang, lanjut Iis, dimanfaatkan warga pesisir utara Rembang hingga Blora yang memilih membuka ladang garam. Ia pun telah berkoordinasi dengan para petugas BPBD maupun BBWS Pemali-Juwana untuk mengantisipasi potensi bencana kekeringan di sana.

“BPBD sudah kami beri masukan untuk meminimalisasi kekeringan yang sering muncul di wilayah tersebut. Untuk BBWS, kami minta melakukan penambahan debit air di saluran saluran irigasi,” bebernya.

Lebih jauh, ia mengimbau seluruh warga Jawa Tengah agar bijak menggunakan air selama kemarau. Karena saat kemarau tiba, banyak sumur yang mengering serta debit sungainya yang menyusut. “Inilah yang menyebabkan banyak sekali daerah-daerah mengalami bencana kekeringan. Bijaklah memakai air secukupnya, supaya persediaan di sumur tetap saat kondisinya sudah berubah menjadi musim kemarau,” tutur Iis.

Yoga Sambodo, Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang mengatakan saat ini mayoritas wilayahnya sudah memasuki peralihan musim menuju kemarau. Ia meminta warganya mewaspadai dalam menghadapi fenomena-fenomena cuaca ekstrem yang berpotensi muncul di semua daerah. “Musim kemarau muncul karena ada hembusan angin yang kuat dari sisi perairan Australia menuju perairan NTT sampai melewati Pulau Jawa,” kata Yoga.

Sementara Darwahyuni, Kabiro Hukum BMKG, menyarankan masyarakat untuk selalu memperbaharui informasi perkiraan cuaca di portal resmi yang telah dibuat oleh BMKG.

“Karena itulah, kami menggelar ruang pameran di DP Mall sebagai bentuk sarana informasi bagi masyarakat supaya dapat mengenal lebih dekat dengan tugas BMKG khususnya pemakaian peralatan untuk mendeteksi perubahan iklim,” tandasnya. (far)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.