Pesanan Sabu Berbungkus Rokok di Bawah Pohon, Sekali Ambil Dibayar Rp 2 Juta

Jaringan peredaran narkoba bekerja secara rapi. Transaksi jual beli tidak pernah dilakukan dengan tatap muka. 

Tersangka Karmiyati saat gelar perkara di Mapolsek Genuk, Kota Semarang, Jumat (11/1/2019). (Efendi/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Karmiyati (41), perempuan yang diringkus petugas Polsek Genuk, Kota Semarang, mengaku mengedarkan sabu bersama jaringannya, yakni seorang narapidana (napi) yang mendekam di LP Kedungpane Semarang berinisial BG.

 

Ia mengaku dipandu oleh napi narkoba tersebut melalui ponsel. Transaksi antar jaringan tidak pernah dilakukan dengan tatap muka. Barang haram tersebut dikemas dalam bungkus rokok Djarum Super dan ditaruh di bawah pohon.

 

Setelah mendapatkan petunjuk alamat dari pengendali atau bandar, Karmiyati bergegas mengambilnya. Selanjutnya, ia menjual sabu tersebut ke pengguna.

 

“Jadi tersangka ini mengedarkan sabu-sabu dengan paketan yang dimasukkan ke dalam bungkus rokok Djarum Super. Dia selalu memakai bungkus itu dan ditaruh di bawah pohon,” ujar Kapolsek Genuk, Kompol Zaenul Arifin di Mapolsek Genuk, Jumat (11/1/2019).

 

Pengakuan Karmiyati, ia menjadi pengedar sabu-sabu sejak empat bulan lalu. karmiyati berdalih lantaran membutuhkan biaya untuk hidup. Termasuk untuk makan dan membayar sewa indekos.

 

“Melalui ponsel, saya berkomunikasi dengan seorang penghuni Lapas Kedungpane berinisial BG. Selanjutnya menentukan titik mengambil barang maupun menyebarkan,” ungkapnya.

 

Dia mengaku hanya berperan mengambil kemudian membagi ke dalam paket kecil. “Selanjutnya mengantarkan sesuai dengan perintah Pak BG. Biasanya paketan itu saya masukkan ke dalam bungkus rokok Djarum Super dan saya taruh di bawah pohon,” kata Karmiyati.

 

Warga Jalan Borobudur, Kecamatan Genuk, Kota Semarang itu mengaku kenal dengan BG sejak beberapa tahun lalu. Saat itu, sebelum BG mendekam di Lapas Kedungpane akibat kasus peredaran narkoba, mereka sempat tinggal di tempat kos yang sama di daerah Kalibanteng Semarang Barat.

 

Hubungan pertemanan itu kemudian terpisah lantaran BG diringkus oleh petugas kepolisian beberapa waktu lalu. Namun keduanya kembali berhubungan untuk menjalankan bisnis “gelap” ini.

 

“Dulu memang kenal sama pak BG waktu kami satu kos di daerah Kalibanteng. Saat itu dia jadi tetangga. Saya di indekos tinggal sendiri, nggak punya keluarga, nggak punya suami, nggak punya anak. Hasil dari ini (mengedarkan narkoba) juga saya pakai sendiri untuk biaya hidup, makan dan bayar sewa indekos,” kata Karmiyati.

 

Karmiyati mengaku dibayar Rp 2 juta setiap kali mengambil paketan. Uang tersebut dibayarkan melalui transfer bank setelah ia berhasil menyebar sabu ke tempat-tempat sesuai dengan perintah BG.

 

“Selama empat bulan ini saya baru ngambil dua kali,” kata Karmiyati.

 

Namun, pergerakan Karmiyati dalam bisnis “gelap” ini harus terhenti setelah ia berhadapan dengan petugas kepolisian. Ia diringkus di tempat kosnya setelah pihak kepolisian melakukan pengembangan penangkapan salah satu pelanggannya bernama Muhammad Irsad (34). Ia diringkus beserta barang bukti sabu-sabu seberat 50,39 gram dan timbangan digital.

 

Kini Karmiyati harus mendekam di Mapolsek Genuk. Ia dijerat dengan Pasal 114 ayat 1 serta Pasal 112 ayat 1 UU Nomor 39 Tahun 2009 tentang penyalahgunaan narkotika dan diancam hukuman maksimal 20 tahun penjara. (fen)

 

 

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.