Pertashop Percepat Akses Pembelian BBM di Pelosok Desa

"Geliatkan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19"

 

Tertolong- Kehadiran Pertashop di desa Bancak kecamatan Wonokerto Kabupaten Semarang sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan akses BBM secara cepat dengan layanan seperti di SPBU.
Foto : Tri Sutristiyaningsih

 

METROJATENG.COM- Pertamina dalam upaya menggeliatkan pertumbuhan ekonomi positif  masyarakat di tengah pandemi Covid-19, berkomitmen untuk menyediakan bahan bakar minyak (BBM) hingga pelosok negeri dengan menghadirkan Pertashop. Kehadiran Pertashop ternyata sudah ditunggu-tunggu masyarakat desa Bancak, Kecamatan Wonokerto  dan warga desa Pringapus Kabupaten Semarang yang ingin mendapatkan akses cepat untuk mendapatkan BBM, dengan harapan akan mempercepat pertumbuhan ekonomi hingga pelosok  desa.

Priyono , warga desa Wonokerto, mengaku sangat terbantu dengan adanya Pertashop di desanya, karena ia tidak harus pergi ke SPBU di kecamatan Bringin yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Menurutnya Pertashop sangat membantu warga desa untuk mendapatkan BBM dengan harga yang sama dengan SPBU, Rp 9.000 perliter untuk Pertamax.

“Dulu kalau kehabisan bensin, saya terpaksa membeli dari  penjual eceran yang ada di desa dengan harga yang lebih mahal. Namun dengan adanya Pertashop kini tidak harus takut kehabisan bensin dan juga hemat waktu,” ujarnya.

Dijelaskan membeli bensin di Pertashop  kualitas BBM-nya jelas, harganya sama dengan SPBU dan ukurannya tepat.  Meski hanya menyediakan Pertamax, harganya justru sama dengan harga Pertalite eceran, namun kualitas Pertamax jauh lebih bagus dan tidak merusak mesin motor, sehingga motor menjadi lebih awet.

Hal senada juga diungkapkan  Edy , petani  warga desa Wonokerto Kabupaten Semarang . Masyarakat di desanya sangat senang dengan kehadiran Pertashop yang seperti SPBU, lebih-lebih lokasinya dekat dengan sekolah dan balai desa.

“Pelayanan operator juga baik dan mau melayani pembelian BBM walau hanya Rp 5000. Namanya orang desa kadang uang yang dimiliki tidak cukup untuk membeli 1 liter BBM,” ujarnya. 

Menyinggung jam buka Pertashop mulai pukul 06.00 WIB – 18.00 WIB menurutnya cukup bagus, kalau bisa jam buka ditambah sampai jam 20.00. “ Kalau jam wolu di desa  pun  wengi  lan mulai sepi benten kalih kutha (jam 8  di desa sudah malam dan sepi beda sama kota),” tuturnya dalam Bahasa Jawa.

Sementara itu Kharis mutohar, operator yang melayani di Pertashop Bancak, Wonokerto  yang beroperasi mulai pertengahan Agustus mengatakan, Pertashop di desanya penjualan masih berkisar antara  180-200 liter perhari. Ini dikarenakan di daerah ini banyak sekali penjual eceran yang menyediakan premium dengan harga Rp 8.500 perliter.

Masyarakat desa Wonokerto khususnya orang tua lebih suka membeli BBM yang murah, meski harganya terpaut Rp 500 saja. Namun berbeda dengan anak-anak mudanya, justru lebih suka membeli BBM di Pertashop, karena yang dijual Pertamax dengan kualitas yang lebih bagus dan takaran yang pasti pas.

“Saya  juga berusaha memberi edukasi, kualitas Pertamax jauh lebih bagus dari Premium. Kasihan masyarakat kalau harus membeli BBM dengan kualitas  oktan 88, padahal di dekatnya ada yang lebih baik, dan tidak membuat mesin motor cepat rusak, yakni Pertamax dengan oktan 92” ujar Kharis Muntohar dengan tulus tetap melayani masyarakat.

Menyinggung darimana pengecer mendapatkan BBM, dengan harga yang lebih murah, kepada metrojateng.com Kharis mengaku ada yang memasok dengan mobil bak terbuka yang membawa drum berisi BBM. Banyaknya pengecer di desa ini karena desa ini jauh dari SPBU, dan ini menjadi tugas saya untuk memberikan pelayanan sekaligus memberikan pemahaman kepada warga desa untuk membeli BBM di Pertashop.

“Untuk saat ini Pertashop masih melayani Pertamax saja dengan pengiriman BBM dari Semarang sekitar 2000 liter tiap lima hari sekali. Sedangkan untuk gas L:PG belum ada, meski sudah banyak warga desa yang menanyakan gas LPG,” tambahnya.

 

Antusias- Warga masyarakat desa Pringapus Kabupaten Semarang menyambut baik kehadiran Pertashop, meski harus berpanas-panas untuk mengisi BBM.
Foto : Tri Sutristiyaningsih

 

Berbeda dengan pertashop Wonokerto, Pertashop di Pringapus Kabupaten Semarang penjualannya lebih bagus. Hal ini dikarenakan Pringapus cukup ramai, karena banyak sekali pabrik garmen, sehingga pembelinya cukup variatif mulai dari anak muda sampai orang tua.

Menurut operator Pertashop Pringapus Sugeng Triyadi, Pertashop ini mulai buka pertengahan Juli 2020. Pada 3 bulan pertama pengelolaan masih oleh Pertamina dan setelah itu apakah akan dikelola oleh desa atau pihak ketiga, ia tidak tahu karena ia hanya menjalan tugas saja.

Rata-rata penjualan tiap hari mencapai 200-300 liter. Kehadiran Pertashop ini disambut baik oleh masyarakat, karena mereka membeli BBM lebih dekat, dan tidak perlu harus ke SPBU Ngempon atau SPBU di Karangjati. Menurut  Sugeng operator Pertashop dibagi dalam dua shif, buka mulai pukul 06.00 WIB-19.00 WIB.

Warga Minta Jam Buka Diperpanjang

Mengingat jam buka hanya sampai jam 7 malam banyak masyarakat yang meminta agar Pertashop buka sampai malam. Pasalnya banyak karyawan pabrik garmen yang pulang malam  dan membutuhkan BBM.

“Mas mbok nek buka sampai  jam 11 malam, jadi ora bingung golek BBM (Mas kalau buka sampai jam 11 malam , jadi tidak susah cari BBM), karena kalau beli di SPBU jauh , ” cerita Sugeng.

Penjualan BBM di Pertashop berjalan lancar. Namun cuaca yang panas pada siang hari  kadang membuat konsumen tidak mau menunggu lama untuk antri dan akhirnya kabur karena kepanasan. “Di sini panas, saya sudah usul agar diberi peneduh, jadi kalau pas banyak yang ngantri pelanggan tidak kepanasan lagi,” tambahnya.

Diakui kehadiran Pertashop di desa Pringapus sangat menolong warga khususnya  karyawan garmen dan anak anak kos. Ini dikarenakan dengan harga Rp 9.000 sudah mendapat Pertamax, sedangkan dengan harga yang sama jika membeli di pengecer hanya mendapat Pertalite. 

“Keberadaan Pertashop ini sangat membantu masyarakat, karena di Pringapus belum ada transportasi umum, jadi warga banyak yang menggunakan motor “ ujar Sugeng yang tetap melayani dengan tulus karena melayani konsumen merupakan bagian dari tugasnya sebagai operator Pertashop.

Masyarakat disini kadang juga lucu, karena menganggap Pertashop juga tempat penukaran uang. “Masalahnya ada seorang ibu , pagi pagi sudah membeli BBM, namun hanya membeli Rp 5.000 saja, tetapi uang yang digunakan untuk membayar pecahan Rp 100.000, ternyata itu dilakukan hanya untuk menukarkan uang saja, meski hnya membeli BBM Rp 5.000 saya  tetap melayaninya,’ ujar Sugeng.

Menyinggung soal pedagang eceran, Sugeng mengaku ada pedagang eceran yang membeli dengan jirigen untuk dijual lagi dan tetap dilayani. Pedagang eceran ini tidak membeli BBM bersusidi tetapi membeli BBM non Subsidi, karena Pertashop hanya menjual Pertamax.

Aditya, Warga Pringapus juga mengaku sangat terbantu dengan adanya Pertashop, karena ia tidak harus ke SPBU Ngempon atau Karangjati untuk membeli BBM yang letaknya cukup jauh dari rumahnya.

Sebagaimana diungkapkan Unit Manager Communication & CSR Pertamina wilayah Marketing Operation Region IV, Anna Yudhiastuti, Hingga Agustus 2020, mini outlet Pertashop telah hadir di 19 Provinsi di 147 titik penyaluran. Memasuki era new normal Pertamina kembali menggencarkan pembangunan Pertashop di sejumlah wilayah. Pertashop merupakan lembaga penyalur Pertamina berskala kecil, untuk melayani kebutuhan konsumen BBM yang tidak/belum terlayani oleh lembaga penyalur resmi Pertamina lainnya seperti SPBU. Selain BBM, Pertashop juga menyediakan produk unggulan Pertamina yang lain seperti LPG Bright Gas dan Pelumas.

“Pertamina terus memperluas jangkauan masyarakat terhadap BBM dan LPG, diantaranya dengan membangun Pertashop, dan kini Pertashop yang telah beroperasi, siap melayani masyarakat di desa dengan menghadirkan berbagai produk Pertamina dengan kualitas yang terjamin, takaran yang tepat serta harga sama dengan di SPBU,” ujar Anna. 

Anna menambahkan, pembangunan Pertashop akan terus berlanjut sampai seluruh kecamatan yang belum memiliki lembaga penyalur BBM dan LPG kecamatan terwujud. Pertamina akan memprioritaskan lembaga desa dan usaha UMKM sebagai pengelola Pertashop, sejalan dengan Program Pertamina One Village One Outlet sehingga nantinya pemerintahan desa memiliki pusat ekonomi baru. Untuk mengetahui lebih lanjut terkait persyaratan pembangunan Pertashop, dapat diakses melalui https://spbu.pertamina.com/

“Dengan dukungan Pemerintah dan seluruh stakeholders, Pertamina berharap program Pertashop ini dapat melengkapi kesuksesan Program BBM Satu Harga yang saat ini telah dinikmati masyarakat di wilayah 3T,” pungkas Anna.

Program Pertashop merupakan kemitraan antara PT. Pertamina (Persero) selaku Badan Usaha penyedia BBM dengan Pemerintah Desa untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat desa untuk mendapatkan akses BBM sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat di sekitar desa tersebut.Program Pertashop merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman Kementerian Dalam Negeri dengan PT. Pertamina Persero tanggal 18 Februari 2020 tentang Dukungan Pemerintah dan Masyarakat Desa dalam Peningkatan dan Pengembangan Program Pertashop di Desa.

Adapun jenis Pertashop ada tiga, pertama Gold dengan kapasitas penyaluran  400 liter perhari,  Platinum, berkapasitas penyaluran 1.000 liter per hari, Diamond berkapasitas penyaluran 3.000 liter (3KL).  Sepanjang 2020, Pertamina menargetkan pembangunan 3.827 outlet Pertashop tersebar di berbagai daerah di Indonesia atau 53 persen Kecamatan di Indonesia yang belum terjangkau akses SPBU dengan memanfaatan aset desa. (Tri Sutristiyaningsih)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.