Persaingan Pemilu 2019 Kian Sengit, Para Caleg Mudah Stres

Gejalanya, pandangan mulai tidak fokus, menolak keluar rumah dan tidak mau bersosialisasi dengan masyarakat.

RSJ Amino Gondohutomo, salah satu rumah sakit pemerintah yang siap menangani terapi kejiwaan caleg. Foto: wikimapia.org
SEMARANG – Psikolog RS St. Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro mengingatkan kepada para calon legislatif (caleg) untuk menyiapkan mentalnya ketika bertarung di Pemilu 2019. Sebab, dengan persaingan memperebutkan suara secara ketat, setiap caleg berpotensi mengalami tekanan mental yang bisa mengguncang psikologinya.

 

“Kalau orang mau nyaleg DPR ada macam-macam motivasinya. Apakah memang berniat mengabdi kepada masyarakat, hanya mencari status atau niatan untuk mengejar materi. Nah, kalau ingin mengabdi kan bis pake jalur kerja lain kalau gagal nyaleg. Yang jadi masalah kalau sudah mengeluarkan modal gede dan modal itu tidak berhasil, dia bisa kolaps,” kata Probowatie saat berbincang dengan metrojateng.com, di Kantor Humas RS St. Elisabeth, Jalan Kawi, Semarang, Jumat (11/1/2019).

 

Ia menyebut kegagalan pencalonan di bursa Pemilu cukup berpengaruh pada kesehatan para caleg. Situasi itu terlihat saat ada seorang caleg yang ditemukan depresi di jalanan Kota Madiun Jatim, beberapa tahun silam.

 

Untuk Kota Semarang sendiri, Probowatie mengaku belum menemukan kasus serupa. Hanya saja, ia kerap mendapati beberapa caleg yang tergoncang jiwanya akibat gagal menembus Pemilu.

 

Gejalanya, menurut dia, di antaranya pandangan tidak fokus, menolak keluar rumah dan tidak mau bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Gejala lainnya berupa psikosomatis. Mulai sakit perut, mual dan linglung tanpa adanya diagnosa medis apapun.

 

“Karena tiap calon pasti pasang spanduk-spanduk yang banyak. Ketika gagal lolos Pemilu, dia punya perasaan malu kepada tetangganya. Makanya caleg sekarang wajib dites psikologinya di RSJ. Saya terlibat saat tes psikologi kepala daerah tahun kemarin. Di tahun ini kebetulan saya tidak ikut menanganinya,” bebernya.

 

Ia juga memperkirakan dengan situasi persaingan perebutan suara yang ketat ditambah agenda pemilihan antara DPR RI, DPRD, DPD dan Pilpres yang berbarengan, tahun ini banyak caleg berpotensi mengalami tingkat stres yang sangat tinggi. Tidak cuma itu, penyelenggara pemilu juga dibebani stres tinggi untuk menjaga keamanan.

 

“Kebetulan karena pemilunya pas padat sekali,” imbuhnya.

 

Kemampuan manajemen diri sendiri menjadi kunci utama bagi caleg agar terhindar dari stres maupun depresi. “Itu sangat tergantung motivasi individu masing-masing. Kalau cita-citanya setinggi langit, pasti jatuh langsung. Apalagi sekarang siapapun boleh jadi caleg. Makanya kesiapan mentalnya harus tetap dipelihara. Dari partainya harus mengedukasi setiap caleg,” kata Probowatie. (far)

 

 

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.