Perlintasan Kereta Api Bekas Kecelakaan Ditutup, Warga Protes

Perlintasan kerta api Brogo, kendal. Lokasi ini merupakan tempat bertabrakannya mobil Avanza dengan KA Kaligung, MInggu (20/8). (foto: metrojateng.com/Edy Prayitno)

KENDAL – Warga yang berada di selatan Desa Gebang Kecamatan Gemuh Kendal memprotes penutupan jalur perlintasan rel kereta api di Dusun Brogo. Penutupan itu ada di lokasi kecelakaan mobil yang bertabrakan dengan Kereta Api Kaligung tempo hari. Lantaran jalan ditutup, warga yang akan melintas dengan mobil, harus memutar hingga tujuh hingga delapan kilometer.

Kementerian Perhubungan menutup jalur tersebut untuk roda empat atau lebih. Penutupan dengan memasang besi rel KA di lokasi kejadian sebanyak tujuh titik untuk sisi utara dan selatan. Sementara sepeda motor masih bisa melintas.

Menurut warga, ketimbang ditutup lebih baik perlintasan diberi palang pintu, laiknya perlintasan yang lain. Misalnya perlintasan Desa Sedayu, Kecamatan Gemuh yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Desa Gebang. Warga protes sebab perlintasan yang ditutup tersebut merupakan jalur vital bagi warga Desa Gebang menuju jalan utama kabupaten.

Seorang warga, Mohamad Rifai mengatakan, pemasangan besi rel untuk menutup perlintasan, tidak menyelesaikan masalah. Hal itu justru merugikan warga Jalan Mojo Agung, karena mereka harus memutar lebih jauh melintasi Desa Rawabranten-Desa Galih-Desa Pamriyan hingga ke Desa Sedayu.

Padahal jika akan menyebarang dari perlintasan Brogo tersebut hanya hitungan meter saja. “Saat ini warga yang mengendarai mobil masih tertolong adanya proyek pembangunan tol. Itu pun mereka masih harus menempuh jarak hingga delapan kilometer untuk menuju Jalan Gemuh-Weleri. Saya tidak tahu bagaimana jika tol selesai di bangun. Alternatif lain melalui Desa Ngawensari, Kecamatan Ringinarum, tetapi jaraknya lebih dari 15 kilometer,” urai Rifai.

Warga sebenarnya sudah lama menghendaki perlintasan tersebut diberi palang pintu, bahkan sebelum rel ganda dibangun. Menurut dia, jika tidak salah, usulan pembangunan kepada pemerintah daerah diajukan sekitar tahun 2004 – 2005 bersamaan dengan Desa Sudipayung. “Namun, yang direalisasi perlintasan di Desa Sudipayung, sedangkan di Desa Gebang belum terealisasi,” imbuhnya.

Ketua RT 3 RW 4 Desa Gebang, Rofiq menambahkan, penutupan itu bisa mengancam perekonomian warga. Hal itu karena perlintasan itu merupakan akses pertama bagi roda empat atau lebih. Belum lagi jika terjadi musibah kebakaran, mobil pemadam akan kesulitan karena harus memutar jauh. “Kami sebagai warga berharap dibuatkan palang pintu perlintasan, bukan ditutup untuk kendaraan roda empat seperti sekarang ini,” tuturnya.

Ditemui terpisah Kepala Dinas Perhubungan Kendal, M Toha mengatakan, perlintasan yang tidak berpalang sudah sedianya ditutup. Di Desa Gebang solusinya harus dibuatkan palang pintu. Tetapi biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, sekitar Rp 400 juta. Selain itu, pihaknya kesulitan untuk menempatkan petugas karena terkena moratorium PNS. Petugas yang ada hanya pekerja harian atau tenaga kontrak. ‘’Padahal, untuk petugas penjaga pintu ini tidak bisa sembarang orang, harus tenaga khusus yang sudah dibekali pendidikan dan pelatihan dari PT KAI,’’ terang dia. (MJ-01)

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 88 = 93

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.