Perjuangan Berliku Seorang Guru Honorer demi Mencium Hajar Aswad

MASADAH kini bisa bernapas lega. Perempuan berjilbab tersebut tahun ini sangat beruntung. Tak lain karena ia punya kesempatan menunaikan ibadah haji bersama delapan orang dari kampungnya di Mangkang Wetan RT 01/RW IV Kecamatan Tugu, Semarang.

Masadah, seorang guru honorer saat mengajar di TK Busnanul Anfal 31 Mangkang. Masadah akan berangkat haji 6 Agustus nanti. Foto: efendi

Perjuangan Masadah naik haji cukup melelahkan. Ia rela menunggu tujuh tahun agar dapat datang ke Masjidil Haram dan mencium Hajar Aswad.  “Kepenginnya sejak tahun 2005. Uang hasil ngajar taman kanak-kanak, saya ikutkan arisan kampung. Sedikit-sedikit menyisihkan seratus ribu. Sampai akhirnya bisa ndaftar haji di Kemenag Semarang Agustus 2011,” aku Masadah, di sela mengajar di TK Busnanul Anfal 31 Mangkang, Tugu, Rabu (25/7).

Masadah mengaku penghasilannya sebagai guru honorer selama ini sangat pas-pasan. Dengan upah mengajar setiap bulan hanya Rp 800 ribu, ia harus menghidupi lima anaknya.

Bebannya tambah berat tatkala suami tercintanya meninggal sepuluh tahun silam. Masadah bilang kesempatannya naik haji menjadi sebuah anugerah tersendiri ditengah himpitan ekonomi yang menderanya.

“Di kelas saya ngajar 15 anak TK. Memang berat sekali jadi guru honorer apalagi gajinya dibawah UMR. Dari awalnya digaji Rp 15 ribu. Sekarang Rp 800 ribu. Saya hanya menang doa dan keikhlasan kepada Allah,” kata wanita 54 tahun ini.

Perasaan Masadah bertambah lega tatkala mendapati keempat anaknya sudah mentas semua. Tinggal anak bontotnya yang masih sekolah menengah kejuruan di Pemalang.

Agar bisa beribadah haji, Masadah harus menjalani hidup apa adanya. Saban hari ia jalan kaki 10 kilometer dari rumahnya menuju sekolahannya di tepi Jalan Raya Mangkang. “Modal saya semangat sekolah anak-anak,” tutur nenek tujuh cucu ini.

Harapannya untuk lekas naik haji pun keturutan. Di tanggal 6 Agustus tepat pukul 00.00 WIB nanti, ia akan terbang ke Jeddah untuk beribadah ke Mekkah. “Sempat khawatir antrean hajinya sampai 25 tahun, tetapi akhirnya keturutan juga, Mas,” akunya dengan wajah berbinar.

Sebelumnya Masadah sempat umroh. Itu ia lakukan karena saking ngebetnya melihat Rumah Allah di Masjidil Haram.

Wanita yang jadi pengurus Aisyiah Muhammadiyah ini akan berangkat dengan kloter 70 Semarang. Teman-temannya ikut bahagia lantaran cita-citanya akhirnya kesampaian.

Saat ini, di TK Bustanul Anfal terdapat empat guru. Muridnya yang semakin sedikit membuatnya sedikit was-was. “Jumlah murid saya terus naik turun. Sempat 100 anak. Sekarang tinggal 15 anak. Halaman TK saya juga sering kena gusur pelebaran jalan Mangkang. Makanya saya sekarang kalau nyari murid susah sekali,” bebernya.

Untuk mempersiapkan ibadah hajinya, Masadah mengaku sudah menjalani cek kesehatan.

Ia bilang hasil tes kesehatannya menunjukkan kondisi fisiknya sangat bugar. Kondisi jantung, paru dan tensi darahnya normal. “Bersyukur sekali saya satu-satunya calon jemaah yang tidak dirujuk ke rumah sakit,” tutupnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.