Peran Istri Cegah Suami Terlibat Korupsi dan Gratifikasi

Salah satu upaya mengantisipasi setiap celah potensi yang menjadi pintu awal terjadinya korupsi dan gratifikasi.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memberikan pengarahan saat sosialisasi pencegahan korupsi dan pengendalian gratifikasi. (Masrukhin Abduh/Metrojateng.com)

 

SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengajak para istri Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kota Semarang ikut berperan memerangi korupsi dan gratifikasi. Hal itu diwujudkan dengan deklarasi Perempuan Anti Korupsi Kota Semarang.

Deklarasi dilakukan dalam sosialisasi bersama para istri para ASN yang terhimpun dalam organisasi Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita dengan menggandeng SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi) Pusat, di Gedung Lokakrida Balaikota Semarang, pada Rabu (20/2/2019) lalu.

Hendrar Prihadi mengatakan, sosialisasi dan deklarasi itu dilaksanakan untuk salah satu upaya mengantisipasi setiap celah yang berpotensi menjadi pintu awal terjadinya korupsi dan gratifikasi.

‘’Di balik seorang pria hebat, ada istri yang hebat pula, dan sebaliknya di balik suami yang tidak hebat, ada istri atau wanita yang merongrong suaminya,’’ ungkap Hendi.

Karenanya, menurut wali kota, pasangan suami istri harus berjalan seiringan dan saling mendukung satu sama lain.

Hendi menjelaskan, saat ini roda pemerintahan terus didorong menuju pemerintahan yang transparan, terbuka, clear and good governance (tata laksana pemerintahan yang baik). Karenanya saat ini sistem pemerintahan di Kota Semarang sudah dirancang untuk tidak ada celah untuk korupsi dan gratifikasi.

‘’Di rumah, suami jangan sampai digoda atau diributi berbagai keinginan yang tidak sesuai dengan kemampuan, sehingga akhirnya terdorong untuk melakukan korupsi atau gratifikasi,’’ katanya.

Wali kota menyakini, jika istri memegang peran penting untuk selalu mengingatkan suami agar tidak tergoda untuk menerima gratifikasi.

‘’Maka itu melalui sosialisasi ini, harapannya para istri akan semakin tahu celah-celah gratifikasi sehingga akan lebih kuat berkomitmen untuk melawannya,’’ jelasnya.

Lebih lanjut, menurut Hendi ada dua kelompok yang berpotensi terjerat perbuatan gratifikasi serta KKN, yakni kelompok yang tidak mau tahu alias ndableg dan kelompok yang tidak tahu.

Untuk kelompok pertama, diyakini Hendi sudah sangat minim di jajarannya. Namun untuk kelompok yang tidak tahu, pemberian gratifikasi dianggap sebagai ucapan terima kasih yang wajar.

‘’Kalau dirasa ada yang kurang wajar, langsung ditanyakan saja kepada suami dan tegas menolak kalau ada hal-hal yang sifatnya gratifikasi dan korupsi,’’ tegasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi menyampaikan peran nyata yang bisa dilakukan seorang istri dalam ikut memerangi korupsi.

Peran tersebut adalah diwujudkan dengan mendoakan dan mengingatkan sang suami untuk mencari rezeki sesuai aturan. Serta berusaha menciptakan suasana rumah yang nyaman dengan tidak menuntut berbagai hal di luar rezeki yang diterima.

‘’Tidak usah neko-neko dan jangan besar pasak daripada tiang sehingga suami juga nyaman dalam mencari rejeki sesuai track dan aturan,’’ ujarnya yang biasa disapa Tia Hendi. (duh)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.