Perajin Parcel Jepara Harus Utang Untuk Penuhi Kebutuhan

perajin parcel
Perajin parsel rotan masih belum tercukupi dari hasil kerjanya. (foto: metrojateng.com/MJ-23)

JEPARA – Perajin rotan di Desa Teluk Wetan Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara belum bertumpu pada penghasilannya. Dari hasil menganyam, perajin yang rata-rata kaum perempuan hanya mendapatkan Rp 15 ribu sampai Rp 30 ribu per harinya.

Jika dikalkulasi selama satu bulan, mereka hanya mendapatkan upah sekitar Rp 450 ribu sampai Rp 900 ribu. Jumlah tersebut jauh dari kebutuhan hidup yang harus mereka keluarkan.

Sarinah, perempuan berusia 35 tahun ini harus menghidupi anak dan kedua orang tuanya. Di rumah berukuran 5 meter persegi, ia bekerja sebagai buruh kerajinan parsel.

“Saya bekerja sebisa saya, karena masih harus ngurus anak yang masih berusia 18 bulan. Ya, dari buruh membuat parsel dapat mengumpulkan uang Rp 15 ribu per hari,” katanya di rumahnya, Jumat (16/3).
Hasilnya yang pas-pasan itu, ia terpaksa harus berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, rumahnya pernah roboh diterjang angin. Akhirnya, warga sekitar bergotong-royong membantunya.
“Ya, tiap bulan pasti utang untuk makan. Kondisi rumah seperti ini, karena buat makan saja kurang. Ini sudaj direnovasi seadanya dari hasil iuran warga sekitar,” lanjutnya.
Ayahnya, Joyo (60) tidak bisa beraktivitas normal karena kakinya sakit akibat kecelakaan. Sedangkan ibunya, Marsiyah (60) mengalami gangguan pendengaran.
“Bapak dulunya tukang becak, tapi pernah kecelakaan dan sampai sekarang tidak lagi bekerja. Sudah empat tahun ini tidak kerja. Kalau suami saya kerja di Kalimantan, kirim uangnya tidak pasti,” paparnya.
Pengrajin lain, Sutimah (50) hanya mampu mengumpulkan uang rata-rata Rp 700 ribu per bulan. Padahal, ia harus merawat suaminya, Sarmani yang sudah tidak bisa bekerja. “Buat parsel. Tiap harinya dapat Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Itu kalau stok rotannya ada,” katanya.

Mayoritas kaum ibu di Desa Teluk Wetan berkerja sebagai eprajin rotan. Desa ini merupakan sentra kerajinan rotan. Diantaranya furnitur, perabot rumah tangga, hiasan dan parsel. Hampir seluruh anggota keluarga Sutimah bekerja menjadi perajin rotan atau parsel.

“Saya dan suami masih tinggal bersama tiga anak saya. Malahan, ruang sempit diberi atap dan ditempati anak saya yang satunya. Hanya berukuran lebar kurang dari dua meter. Dia juga buruh buat parsel,” ucapnya di rumahnya yang sempit.

Kapolsek Welahan AKP Rismanto yang berkesempatan menyalurkan bantuan mengatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan untuk mencarikan solusi. “Kalau lapangan pekerjaan memang sudah ada. Tapi masih belum bisa sepenuhnya mennyejahterakan. Ini coba akan saya koordinasikan, cari kendalanya serta solusi,” tutur dia.

Untuk mengentaskan kemiskinan memang perlu adanya sinergitas antara pemerintah dengan pengusaha lokal. “Kami harap ada saling bersinergi untuk mengentaskan kemiskinan. Setidaknya hal itu dapat mengurangi angka kriminalitas,” terangnya.

Camat Welahan, Nuryanto menuturkan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Terutama pemerintah desa untuk segera mencarikan solusi. “Saya akan segera dorong pemerintah desa untuk memikirkam solusi,” tandasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

64 − = 55

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.