Penyiapan SDM Industri Fashion Melalui Pelatihan Vokasi

*Morning Talkshow With BBPLK Semarang

Semarang – Tantangan pelaku industri fashion kini semakin ketat karena persaingan tak hanya secara nasional tetapi juga internasional. Belum lagi, hantaman pandemi Covid – 19 yang membuat pasar fashion ini semakin lesu karena daya beli menurun.

“Dalam kondisi seperti ini yang diperlukan adalah kreativitas dan jangan pernah berhenti untuk mencari ide-ide baru,” ungkap Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan RI Budi Hartawan di sela-sela Semarang Fashion Convention 2020 di Studio Catwalk Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK), Semarang.

Menurutnya kreativitas ini bukan hanya soal model, tetapi bagaimana bisa menembus pasar. Sebab, meskipun produk yang dihasilkan sudah bagus, tetapi jika tidak terserap pasar juga tidak akan berkembang.
“Oleh sebab itulah, sebelum produksi kita kerja sama dengan industri supaya kita tahu arahnya ke mana, nah itu yang kita latih supaya kita berkembang dan produksi sesuai yang diinginkan pasar,” terangnya.

Sementara itu Kepala BBPLK Semarang, Edi Susanto menambahkan saat ini para lulusan desainer di institusi ini sudah melirik peluang pasar baru yakni mendesain masker. Ini sebagai upaya agar para lulusan dari lembaga ini tetap bisa eksis ditengah pandemi Covid-19. ”Permintaan masker kan terus ada, jadi ini menjadi peluang baru bagi para desainer di sini,” paparnya.

Ia juga berpendapat fashion tidak akan berhenti sampai kapan pun dan akan terus dibutuhkan masyarakat.

“Maka kami mencoba menyesuaikan kurikulum berikut standar kompetensinya, termasuk peralatannya yang terus kita sesuaikan dengan dunia industri,” jelasnya.

Selain itu, Edi juga menilai para alumni dari BBPLK tidak ada yang menganggur. Bahkan menurut datanya 92 persen alumni sudah bekerja dan memiliki usaha sendiri.

”Sedangkan yang 8 persen mereka tidak bisa dipastikan menganggur, melainkan putus komunikasi. Ia mencontohlan lulusan yang sudah sukses adalah desainer Mas Eko dan Mas Nakro yang baru lulus tahun 2019 tapi produk mereka sudah diterima di pasar luar negeri”, tutup Edi.(eff)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.