Penyelundup Narkoba dari Jepara Dituntut Hukuman Mati

image

SEMARANG – Delapan terdakwa kasus penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 97 kilogram ke Jepara kini benar-benar terancam hukuman mati. Fakta itu terungkap dari sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Semarang, Rabu (20/7).

“Hari ini agendanya beda-beda, ada yang pembacaan dakwaan, eksepsi, saksi dan putusan sela. Semua terdakwa kami jerat dengan pasal yang sama,” ungkap Kepala Kejaksaan Negeri Semarang, Rizal Pahlevi melalui Kasi Tindak Pidana Umum, Anton Rudyanto.

Kedelapan terdakwa yang dimaksud antara lain, dua warga asing atas nama, Muhammad Riaz alias Mr Khan dan Faid Akhtar asal Pakistan, Khamran Malik alias Philip Russel asal Amerika Serikat lalu sisanya Didi Triono (DT) asal Jepara, Peni Suprapti, Citra Kirniawan, Restiyadi Sayoko, dan Tommi Agung Priambudi dari Semarang.

Anton bilang, semua terdakwa terjerat dakwaan hingga tiga pasal sekaligus masing-masing primer pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) Undang-undang RI No 35 tahun 2009 tentang narkotika. Lalu, ada lagi dakwaan subsider pasal 113 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) dan lebih subsider pasal 112 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) undang-undang yang sama.

Kasus ini memang menarik untuk diikuti lebih mendalam karena merupakan tangkapan BNN yang paling wahid di Jateng. Budi Waseso memimpin langsung operasi pembongkaran aksi penyelundupan sabu tersebut di Jepara. Modusnya, mengemas narkoba ke dalam 194 genset di Jepara.

Menariknya, dalam kasus penyelundupan sabu juga melibatkan seorang perempuan pribumi. Peni Suprapti, si wanita itu kini juga duduk di kursi pesakitan lantaran eksepsi yang ia ajukan ditolak Ketua majelis hakim Sigit Hariyanto.

Alhasil, dengan kondisi ini maka hakim meminta jaksa penuntut umum Kejari Semarang melanjutkan perkaranya.

“Pemeriksaan perkara tetap dilanjutkan dan keberatan kuasa hukum terdakwa tidak dapat diterima dan memerintahkan JPU untuk melanjutkan pemeriksaan terdakwa Peni Suprapti,” kata Ketua Majelis hakim, Sigit Heriyanto.

Usai sidang, kuasa hukum Peni, Teodorus Yosep Parera beranggapan putusan hakim masih bijaksana karena untuk mencari kebenarannya harus ditentukan saksi. Apalagi, yang dilakukan kliennya cuma menransfer dan menerima uang dari suaminya.

“Semua masih wajar dilakukan layaknya istri, mobil dipakai suaminya masih biasa. Jadi ndak langsung terlibat narkoba,” bebernya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 1 = 4

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.