Penyebaran Paham Ekstrimisme Jangkau Tenaga Pendidik

Mereka biasanya terpengaruh dari postingan-postingan di medsos dengan mengidolakan seorang ustad dan konten di dalamnya.

SEMARANG- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan banyak tenaga pendidik yang telah terpengaruh paham radikal yang disebarkan dari jejaring media sosial
(medsos).

Ilustrasi radikalisme. Foto: metrojateng.com

“Saat kami melakukan riset sendiri selama setahun terakhir sejak Juli sampai September, lalu kami kumpulkan datanya. Nah dari situlah diketahui ternyata pengaruh intoleransi dan radikalisme disebarluaskan dari narasi-narasi yang dibangun dari sosial media,” ungkap Sri Yuniarti, peneliti utama dari Kajian Politik LIPI, usai berdialog dengan para pemangku kepentingan di Hotel Patrajasa Semarang, Kamis (15/11/2018).

Ia menyatakan dunia pendidikan punya peran besar sebagai tempat masuknya paham-paham radikal. Bahkan, banyak guru yang sudah terpapar paham radikal. Mereka biasanya
terpengaruh dari postingan-postingan di medsos dengan mengidolakan seorang ustad dan konten di dalamnya.

“Maka ini yang harus diperbaiki. Kita harus kembali memeriksa mereka. Sebab temuannya banyak sekali guru sudah terpapar gerakan radikal. Mereka sering suka kontennya, mengidolakan ustadnya dan lain sebagainya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menuturkan narasi yang mengarah pada intoleransi itu dimunculkan dari isu-isu yang sensitif. Misalnya, katanya sekelompok orang tiba-tiba memelintir aturan Perda Syariah dengan menuntut penerapan hukum Islam yang menyeluruh seperti hukuman pancung.

Kemudian ada pula sekelompok ormas yang mulai menafikan kondisi keberagaman yang ada di Indonesia saat ini. Ada anggapan keberagaman Indonesia tidak bisa lagu dimaknai seperti dahulu.

“Dari semula Indonesia yang dibangun dari sekian banyak suku dan agama, lalu segelintir ormas membelokknya dengan membuat pernyataan bahwa Indonesia mayoritas Islam dengan mempertajam dengan narasi khilafah,” katanya.

Sekelompok ormas ekstrem itu kemudian menghimpun ideologi yang sepaham dengan khilafah. Ia menganggap bila situasi tersebut patut diwaspadai semua pihak karena bisa memberikan pengaruh negatif bagi masyarakat.

“Itu peringatan yang harus diawasi ketat oleh pemerintah terutama unsur intilejen,” ujarnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.