Penyaluran Elpiji 3 Kg Belum Tepat Sasaran

Padahal, yang berhak menggunakan adalah rumah tangga miskin dan rentan miskin serta usaha mikro kecil.

MAGELANG – Penyaluran elpiji 3 kg belum tepat sasaran. Masih banyak ditemukan di lapangan elpiji non subsidi ini dikonsumsi oleh masyarakat kategori mampu.

Unit Manager Community dan CSR MOR IV PT Pertamina, Andar Titi Lestari menyosialisasikan penyaluran elpiji bersubsidi 3 kg pada FGD mekanisme distribusi elpiji 3 kg tepat sasaran di Hotel Grand Artos Magelang, Kamis (28/8/2019). Foto: metrojateng.com/anggun puspita

Unit Manager Community dan CSR MOR IV PT Pertamina, Andar Titi Lestari mengatakan, pihaknya masih menemukan banyak warga yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan elpiji 3 kg, justru mendapatkan.

“Padahal, yang berhak menggunakan adalah rumah tangga miskin dan rentan miskin serta usaha mikro kecil. Namun, di lapangan justru ada rumah makan, penginapan dan pengusaha menengah keatas lainnya yang menggunakan,” ungkapnya pada FGD mekanisme distribusi elpiji 3 kg tepat sasaran di Hotel Grand Artos Magelang, Kamis (28/8/2019).

Diketahui, selama ini sering terdengar kabar bahwa keberadaan elpiji 3 kg di Jawa Tengah dan DIY langka. Namun kenyataannya, bukan karena distribusi berkurang tapi konsumsi yang meningkat.

“Kami mencatat jumlah tabung elpiji 3 kg yang beredar di lapangan sudah ada 37.936 tabung di Jateng dan 4.798 tabung di DIY. Akan tetapi, masih banyak warga yang berhak mendapatkan justru kesulitan. Hal itu ditengarai akibat adanya penyelewengan dan pendistribusian yang tidak tepat sasaran,” tuturnya.

Saat sidak ke sejumlah daerah, lanjut dia, pihaknya menemukan distribusi elpiji 3 kg yang tidak tepat sasaran. “Saat sidak beberapa waktu lalu itu, kami menemukan 254 tabung elpiji 3 kg yang tidak tepat sasaran. Kemudian ada 126 tabung elpiji 5,5 kg yang juga tidak tepat sasaran. Kami mendapatkan itu di beberapa rumah makan, penginapan dan pengusaha menengah keatas bukan mikro kecil,” katanya.

Maka itu, Pertamina MOR IV menggandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah melakukan sosialisasi mengenai mekanisme pendistribusian gas elpiji 3 kilogram. Upaya itu karena elpiji 3 kg merupakan barang bersubsidi yang pembiayaannya dibebankan kepada APBN negara Republik Indonesia.

Pertamina MOR IV menggandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah melakukan sosialisasi mengenai mekanisme pendistribusian gas elpiji 3 kilogram. Disamping itu, Pertamina dan Hiswana Migas akan menindak tegas lembaga penyalur yang berada di bawah pengelolaan Pertamina yaitu Stasiun Pusat Pengisian Bulk Elpiji (SPPBE), Agen dan Pangkalan LPG yang menyalahi aturan.

Selain aturan mengenai lembaga penyalur, Peraturan presiden No 104 tahun 2007 tentang penyediaan, pendistribusian, dan penetapan harga elpiji 3 kg menyebutkan bahwa elpiji bersubsidi hanya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan usaha mikro.

“Dengan adanya kegiatan FGD seperti ini, Pertamina sangat terbantu untuk menyebarluaskan informasi mengenai penyaluran elpiji bersubsidi,” kata Andar.

Pihaknya akan terus berkoordinasi dan bersinergi kepada seluruh stakeholder seperti Disperindag dan rekan-rekan media untuk menyalurkan elpiji 3 kg ini agar tepat sasaran.

Kepala Bidang Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Disperindag Jateng, Mukti Sarjono mengatakan, pemerintah sudah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk tabung gas elpiji 3 kilogram sebesar Rp15.500.

“Kendati demikian, saat sidak masih ditemukan beberapa pengecer yang menjual diatas HET. Untuk itu, dia mengimbau kepada masyarakat khususnya pengusaha restoran besar untuk tidak menggunakan tabung gas elpiji 3 kilogram,” katanya. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.