Penutupan Lokalisasi Sunan Kuning Harus Komperhensif

Pemkot Semarang berencana mengubah Sunan Kuning jadi simbol baru kota.

SEMARANG- Kementerian Sosial telah mengeluarkan kebijakan Indonesia Bebas Lokalisasi Prostitusi pada 2019. Seluruh stakeholder di daerah pun didorong untuk aktif terlibat mendukung target tersebut.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi berbicara dalam diskusi penutupan lokalisasi Sunan Kuning, di Hotel Gracia, Kota Semarang, Kamis, 9 Agustus 2018. Foto: metrojateng.com/Masrukhin Abduh

Tercatat 43 lokalisasi diharapkan bisa tutup selambat-lambatnya di 2019. Salah satunya adalah Resosialisasi Argorejo di Kota Semarang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Lokalisasi Sunan Kuning.

BACA JUGA: Tolak Penutupan Lokalisasi, WTS Kenakan Kaos ‘Pray For Sunan Kuning’

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengungkapkan, tidak dipungkiri bila upaya penutupan lokalisasi tersebut banyak aspek yang dipertimbangkan dan harus ditangani secara komprehensif. Namun, pihaknya memastikan tak ingin penutupan lokalisasi nantinya hanya menjadi sebuah ajang seremonial saja.

BACA JUGA: Penutupan Sunan Kuning Berlanjut, Pemkot Tawarkan Lahan ke Swasta

“Jika berkaca pada kebijakan Kementrian Sosial bahwa lokalisasi sudah harus dihapus dari Indonesia di 2019, maka Kota Semarang juga harus mengikutinya. Namun penutupan itu jangan cuma sebagai seremoni saja, yang kemudian setelahnya para pelaku prostitusi justru berpotensi melakukan aktifitas serupa di tempat-tempat lain,” tegasnya saat diskusi terkait rencana tindak lanjut Resosialiasi Argorejo di Hotel Grasia, Semarang, Kamis, 9 Agustus 2018.

Wali Kota yang disapa Hendi menuturkan, memang tidak elok jika dalam sebuah kota ada aktifitas prostitusi di dalamnya. Tapi penutupan tidak bisa serta merta karena di sana banyak persoalan ekonomi.

BACA JUGA: Tiga Investor Berebut Kelola Lahan Sunan Kuning

Dalam diskusi yang diikuti elemen masyarakat perwakilan instansi pemerintah, Hendi mengatakan, jika nantinya terjadi penutupan, dia akan meminta agar dapat dipastikan bahwa para pelaku prostitusi di sana sudah siap dan terampil untuk melakukan aktifitas lain yang positif.

Tak hanya itu, pasca penutupan dia juga akan meminta agar segera disusun perencanaan yang matang untuk dapat segera merubah kawasan bekas lokalisasi tersebut menjadi simbol baru Kota Semarang, dengan citra yang lebih positif.

“Intinya ini harus komprehensif dan menjadi tanggung jawab bersama, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung,” tegasnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.